Selasa, 12 Mei 2020

APAKAH BAHASA ROH TELAH LENYAP MENURUT 1 KORINTUS 13:10 ?


 Oleh : Hadiran Halawa

Persoalan tentang bahasa roh seakan tidak pernah ada habisnya. Selalu menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan, didiskusikan dan diperdebatkan. Terlebih bagi sebagaian orang Kristen  yang tidak pro dengan penggunaan bahasa roh. Pada dasarnya mereka mengakui bahasa roh itu memang ada tertulis dan terjadi dalam Alkitab, tetapi menurut mereka hal itu hanya dialami oleh orang-orang percaya pada saat itu saja (gereja mula-mula), setalah berakhir zaman rasuli maka otomatis bahasa roh dan karunia roh lainnya berhenti.

 Apalagi dengan adanya Kanon Alkitab maka dengan sendirinya Bahasa roh dinyatakan gugur atau lenyap. Bahasa roh yang sekarang digunakan atau dipraktekan oleh gereja Kharismatik bagi mereka bukanlah bahasa roh sesungguhnya seperti yang di Alkitab. Sebab bahasa roh yang seperti itu  sudah tidak ada lagi atau sudah lenyap sejak “yang sempurna tiba” berdasarkan dari perkataan Paulus dalam 1 Korintus 13:10 “Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap”. 

Kelompok orang yang berpandangan karunia-karunia roh diantaranya bahasa roh sudah lenyap disebut golongan cessationism. Dan kelompok  yang mendukung karunia bahasa roh masih tetap ada sampai hari ini disebut sebagai golongan continuationism yang pada umunya adalah orang kristen pentakosta-Kharismatik.

Mereka yang menganut pandangan cessationism ini umumnya diwakili oleh orang-orang fundamentalist Calvinist atau Reformed, contoh yang terkenal sekarang ini adalah seperti John MacArthur yang anti pentakosta dan kharismatik yang tahun lalu menyelenggarakan Strange Fire Conference untuk membuktikan kalau orang-orang pentakosta dan kharismatik salah. Tapi tidak semua orang-orang Reformed menganut pandangan ini, mereka ini adalah orang-orang seperti Wayne Grudem, Sam Storms, D.A Carson, John Piper, dll. Orang-orang Puritan juga dianggap kebanyakan orang cessationist tapi dalam suatu interview Wayne Grudem mengatakan bahwa orang-orang Puritan seperti Richard Baxter tidaklah cessationists seperti yang dianggap kebanyakan orang, Wayne Grudem memberikan contoh seperti karyanya Richard Baxter “The Christian Directory” Richard Baxter memiliki pandangan yang sama tentang nubuatan dengan Wayne Grudem (1).

1 Korintus 13:10 adalah menjadi ayat dasar bagi sebagian orang yang mengkritisi penggunaan bahasa roh di jaman sekarang ini. Tidak jarang mereka melakukan serangan dengan tidak segan-segan berkata bahwa bahasa roh yang digunakan gereja sekarang ini adalah bahasa setan dari Iblis. Bahkan ada sebagian diantara mereka yang lebih sadis lagi mengatakan bahwa gereja yang menggunakan bahasa roh adalah gereja sesat. Bentuk-bentuk penghakiman seperti itu tidak jarang kita temukan di buku-buku literatur, tulisan-tulisan di media sosial. Oleh Karenanya penulis sebagai orang kharismatik yang juga menggunakan bahasa roh tertarik untuk mengkaji, apakah benar bahwa bahasa roh yang di dalam alkitab itu sudah lenyap.

Konteks 1 Korintus 13

Kalau kita mau mengerti maksud dari 1 Korintus 13:10 tentu kita harus memahami dengan benar konteks keseluruhan pasal 13, tidak bisa asal main tebak-tebakan. Dengan demikian kita bisa mengerti apa sebenarnya yang hendak dikatakan oleh penulis dalam hal ini Rasul Paulus. Secara singkat tujuan menulis surat kepada jemaat di Korintus adalah untuk menegur jemaat yang saat itu tidak tertib dalam penggunaan karunia-karunia rohani dan cenderung disalahgunakan. Selain itu Paulus menegur jemaat yang hidupnya tidak sesuai kebenaran, banyak diantara jemaat yang hidupnya kacau balau, bermasalah dalam moralitas yang buruk, hubungan seks bebas, penyembahan berhala dan lain sebagainya. Ditengah jemaat yang kondisinya seperti ini Paulus menulis surat untuk menegur mereka supay hidup tertib, hidup dalam kebenaranya, termasuk di dalamnya tidak menyalahgunakan karunia-karunia roh, Karunia roh diberikan bukan ajang untuk sombong-sombongan.

Kemudian Paulus dalam tulisannya menegaskan bahwa diatas dari segala karunia kasihlah yang jauh lebih penting. Kasih yang harus menjadi dasar atau fondasi, motivasi, penggerak, pendorong dari semua karunia-karunia rohani sehingga bisa berdampak menjadi berkat bagi banyak orang. Dari ayat 1-8 Paulus menjelaskan panjang lebar tentang pentingnya kasih dibanding karunia-karunia rohani (ayat 1-3) dan arti dan faedahnya kasih di ayat 4-8). Dalam konteks ini karunia-karunia rohani ada dalam dimensi waktu yang suatu saat akan berhenti sementara kasih itu kekal adanya.

Setelah itu diayat 9-10 Paulus berkata “Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap”. Dari ayat ini muncul berbagai spekulasi penafsiran yang pada dasarnya akhirnya berkesimpulan bahwa karunia rohani seperti bernubuat, bahasa roh, karunia pengetahuan sudah lenyap sejak datangnya yang sempurna.

Spekulasi tafsiran pertama: Yang sempurna adalah jemaat yang dewasa

Pendukung dari tafsiran ini beranggapan bahwa “yang sempurna” bisa juga berarti yang dewasa, sehingga mereka memaksudkan yang sempurna itu adalah jemaat yang “matang” atau “dewasa.”

 Kata “yang sempurna” di ayat ini dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru) adalah “teleiov” yang artinya “lengkap”, “sempurna”, “dewasa”. Pengertian secara luas kata ini adalah “telah mencapai tahap akhir atau perkembangan penuh.” Ini berarti telah mencapai kesempurnaan dalam Yesus (Kolose 1:28), telah menjadi dewasa (Efesus 4:13; Ibrani 5:14).

Selanjutnya dalam 1 Korintus 13:11-12, Paulus memberikan ilustrasi (gambaran) tentang keadaan jemaat saat itu yang belum dewasa secara rohani, sehingga sangat diperlukan karunia-karunia rohani untuk membantu jemaat bertumbuh dewasa. Jadi setelah mereka menerima apa yang mereka butuhkan untuk mencapai kedewasaan maka “yang tidak sempurna (karunia-karunia rohani) itu akan lenyap” (1 Korintus 14:10). (2)

 Mengenai mereka yang berpendapat kalau sempurna disini kedewasaan seperti Walter Chantry yang berargumen bahwa di surat 1 Korintus lainnya kata sempurna yang di terjemahkan “sempurna” (τέλειος, G5455) juga biasanya mengacu kepada kedewasaan manusia (1 Korintus 14:20, dewasa dalam pemikiranmu) atau kepada kehidupan kristen yang matang Wayne Grudem berpendapat bahwa tidak setiap kata merujuk kepada hal yang sama setiap kali kata tersebut di gunakan dalam kitab suci – dalam beberapa kasus τέλειος mungkin menunjuk kepada manusia yang “matang” atau “sempurna” dalam kasus lain bisa juga “kelengkapan” atau “kesempurnaan”. Kata τέλειος yang digunakan dalam Ibrani 9:11 mengacu kepada “kemah yang lebih sempurna” – namun demikian kita tidak menyimpulkan kalau kata “sempurna” dalam 1 Korintus 13” mengacu kepada sebuah kemah yang sempurna (3).

Kelemahan dari padangan ini akan susah menjelaskan seperti apa standart kedewasaan jemaat. Adakah orang kristen yang berani mengaku sudah mencapai kedewasaa/sempurna seperti yang dimaksudkna oleh Paulus. Adakah jemaat/orang Kristen sekarang ini lebih dewasa dari gereja mula-mula, termasuk di dalamnya rasul Paulus. Dalam kejujuran Paulus berkata dalam ayat 12 “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka , sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna”

Kalau “yang sempurna” ditafsirkan sebagai jemaat yang dewasa, harusnya Paulus tidak akan begeitu diayat yang kedua belas. Karena tentu Paulus sebagai Rasul jauh lebih dewasa dari jemaat baik pada masa gereja mula-mula maupun dibandingkan dengan jemaat Kristen dimasa sekarang ini. Atau adakah diantara orang percaya yang berkata bahwa dia lebih dewasa dari Rasul Paulus. Lebih lagi Paulus berkata dalam Efesus 4:13 “sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”. Dari ayat ini cukup memberitahu kita bahwa sebenarnya tidak ada jemaat yang sudah mencapai kedewasaan penuh. Kalau kita mau jujur bahwa sebenarnya jemaat mula-mula barangkali mereka jauh lebih dewasa dalam iman dibanding dengan jemaat sekarang ini. Karena mereka mendengar firman langsung dari para rasul.

 Spekulasi tafsiran kedua: Yang sempurna adalah Alkitab

Para Teolog yang mendukung tafsiran ini seperti  Gromacki dalam bukunya, The Modern Tongues Movement, dan . Merril F. Unger, dalam bukunya New Testamen Teaching on Tongues, juga memilki pandangan yang sama.

Rektor Graphe International Theological Seminary Dr. Suhento Liauw, S. Th., M.R.E., D.R.E., Th. D juga mendukung pandangan bahwa “yang sempurna” merejuk kepada Alkitab yang sempuran Dalam tulisannya  disebuah artike   yang berjudul “Alkitab, Firman yang sempurna”. Suhento Liauw berkata

“Meninjau bahasa asli dari kata YANG SEMPURNA adalah τo τέλειος (to teleion), adalah Adjective, Accusative, Neutral, Singular.  Artinya kata sifat, obyek, benda, dan tunggal. Maka itulah sebabnya di banyak Interlinear kata ini diterjemahkan the perfect thing (BARANG sempurna).

Sebuah barang (benda), bukan Yesus karena kalau yang dimaksud Yesus maka Paulus akan memakai gender maskulin.

Jika dihubungkan dengan konteksnya, berarti berbicara tentang sesuatu yang berhubungan dengan nubuatan, bahasa lidah, dan pengetahuan. Barang sempurna ini datang, ia BERPOSISI menggantikan nubuatan, bahasa lidah, dan pengetahuan.

Kelihatannya sulit untuk menghindari penafsiran bahwa yang dimaksud dengan BARANG SEMPURNA di situ ialah ALKITAB atau firman tertulis (Written  Revelation). Firman tertulis yaitu firman sempurna, selesai (datang) akan sebagai pengganti firman lisan yang tidak sempurna”. (4)

Sehento liauw berpandangan bahwa karena kata “yang sempurna” berbentuk gender netral,  dan juga berupa kata benda maka kata yang sempurna itu lebih tepat kalau merujuk kepada Alkitab karena memenuhi syarat. Namun tafsiran ini juga tidak bisa dipertahankan. Kalau memang  benar kata “yang sempurna” maka pertanyaan kritisnya adalah apakah kita yang saat ini sudah memilki alkitab lebih hebat pengenalan kita akan Allah dibanding gereja mula-mula ?, adakah kita lebih hebat pengenalan akan kebenaran dibanding dengan rasul Paulus yang berkata dalam I Korintus 13:12 “Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal”. Adakah jemaat/orang Kristen zaman sekarang ini yang berani mengakui telah mencapai pengenalan akan Allah dengan sempurna, yang lebih hebat dari Rasul Paulus yang melalui ilham Roh kudus telah menulis kitab terbancanyak dalam perjanjian baru. Mungkinkah pembaca tulisan Rasul Paulis yang telah diilahmi oleh Roh kudus lebih hebat dari pada Penulisnya ?. Secara logika sehat kita tentu akan berkata tidak mungkin itu terjadi.

Wayne Grudem dalam bukunya Systematic Theology mengutip perkataan Martyn Llyod Jones mengenai keberatannya jika kata sempurna itu adalah lengkapnya kanon perjanjian baru:  “Ini berarti anda dan saya, yang memiliki kitab suci terbuka di hadapan kita, lebih banyak mengetahui kebenaran Allah dibandingkan rasul Paulus…ini artinya kita semuanya lebih superior..bahkan dibanding rasul-rasul itu sendiri, dan termasuk rasul Paulus! Ini berarti bahwa kita berada dalam posisi dimana…”kita mengenal, bahkan kita lebih dikenal oleh Allah..sesungguhnya hanya ada satu kata untuk menggambarkan pandangan seperti ini, ini adalah omong kosong”(5)

Tafsiran Suhento Liauw yang berkata bahwa “Yang Sempurna” itu merujuk kepada Alkitab karena alasan kata benda  dan  gender Netral. Ditanggapi oleh Samuel T.Gunawan dengan berkata “ Tidak ada peraturan dalam tata  bahasa Yunani bahwa kata benda netral hanya bisa digunakan untuk menunjukan benda-benda yang tidak ada jenis penunjuk jenis kelaminnya. Kata benda netral atau kata ganti (Pronoun) dapat digunakan untuk menggambarkan benda-benda berjenis laki-laki atau perempuan dan dapat juga digunakan untuk menggambarkan pribadi-pribadi. Contoh kata “Roh” “Pneuma” dalam bahasa Yunaninya merupakan kata benda netral dan secara jelas Kitab Suci menyatakan bahwa Roh bukanlah benda tetapi adalah pribadi yang ketiga dari Allah Trinitas dengan demikian kata benda “Teleosis” atau sempurna (perfektion) dalam ayat ini tidak mengacu pada Alkitab tetapi pada kedatangan Kristus kembali diakhir zaman”(6)

Jadi jelas bahwa hanya karena “yang sempurna” adalah kata benda dan bergender netral maka boleh disimpulkan itu merujuk kepada Alkitab. Lagi pula dalam konteks tulisan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus tidak menyinggung hal itu. Dalam hal ini Samule T. Gunawan berkata  “Jika yang dimaksud dengan “yang sempurna” atau “teleios” adalah Alkitab, maka gagasan yang demikian tidak sesuai dengan tujuan Paulus menulis Surat 1 Korintus pasal 13. Ini merupakan suatu gagasan yang asing bagi Paulus maupun jemaat Korintus. Perlu diketahui bahwa kitab terakhir Perjanjian Baru adalah kitab Wahyu yang ditulis paling lambat tahun 90 Masehi atau sekitar 35 tahun setelah Paulus menulis Surat 1 Korintus. Pertanyaannya: Pada waktu Paulus menulis Surat 1 Korintus, khususnya pasal 13 tersebut apakah jemaat Korintus mengerti bahwa kata “yang sempurna” yang dimaksud Paulus itu adalah “kanon Perjanjian Baru” dan apakah yang Paulus maksudkan memang demikian? Jawabannya, tentu saja tidak apabila kita melihat konteksnya secara jujur”.(7)

Spekulasi Tafsiran Ketiga : Yang Sempurna Adalah Kasih

Secara sekilas tafsiran ini kelihatan masuk akal dan sepertinya tepat. Mengingat konteks dari pada 1 Korintus 13 memang berbicara tentang Kasih, terlebih diperkuat lagi kata kasih adalah kata benda yang sama dengan “yang sempurna”. Tetapi kalau mau diteliti lebih lagi, maka tafsiran ini juga sangat lemah dan tidak bisa dipertahankan karena alasan ini:

Bahwa yang sempurna itu adalah sesuatu yang akan datang. Tentu hal ini tidak tepat kalau merujuk kepada kasih. Karena kasih sudah ada dari kekekalan sampai pada kekekalan. Kasih bersifat kekal tidak ada  dalam dimensi waktu. Apakah kasih kita saat ini sudah sempurna ? Apakah orang Kristen jaman sekarang ini lebih hebat dalam mengasihi lebih dari gereja mula-mula bahkan dari rasul Paulus sendiri ?, saya pikir tidak mungkin. Paulsu berkata dalam 2 Korintus 5:14 “ Sebab kasih Kristus telah menguasai kami” Oleh karena kasih itu Paulus dan para rasul lainnya telah telah rela dianiaya, disiksa, dihina, dipenjara, bahkan rela samapai mata demi kasih kepada jiwa-jiwa yang terhilang, memberitakan kasih Kritus kepadanya banyak orang yang tersesat jalannya. Melihat alasan ini maka tidak masuk akal kalau “yang sempuran” itu ditafsiran adalah kasih.

Spekulasi Tafsiran Keempat: Yang Sempurna Adalah Kedatangan Kristus yang Kedua Kali

Mattew Henry seorang komentator Alkitab mendukung pandangan ini dengan berkata “Karunia rohani seperti nubuat, bahasa roh, dan pengetahuan akan lenyap pada akhir zaman ini. Saat itu digambarkan dengan kata-kata "jika yang sempurna tiba" (ayat 1Kor 13:10), yaitu pada akhir sejarah, ketika pengetahuan dan sifat orang percaya menjadi sempurna dalam kekekalan sesudah kedatangan Kristus yang kedua kali (ayat 1Kor 13:12; 1:7). Sebelum saat itu, kita memerlukan Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya dalam jemaat-jemaat kita. Di bagian ini dan bagian-bagian lain dari Alkitab tidak ada petunjuk yang menyatakan bahwa manifestasi Roh melalui karunia-Nya akan lenyap pada akhir zaman rasuli. (8)

Saya sendiri setuju dengan tafsiran ini bahwa “yang sempurna” merujuk kepada kedatangan Yesus yang kedua kali. Hal ini didukung juga dengan pernyataan Paulus sebelumnya  di I Korintus 1:7-8 “Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan pernyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus”. Dari ayat ini jelas Paulus menyinggung tentang kedatangan Yesus yang kedua kali. Ayat 7 jelas sekali bahwa karunia-karunia rohani termasuk di dalamnya bahasa roh, nubuat, pengetahuan masih tetap ada dunia ini sampai kedatangan Yesus yang kedua kali. Jadi sangat tidak masuk akal kalau ada yang beranggapan bahwa karunia-karunia rohani seperti bahasa roh sudah tidak ada lagi, atau sudah berhenti. Ayat 7-8 tentu masih sangat dekat dan releven dengan alur pemikiran Paulus di 1 Korintus 13:10.

Memahami Dua Analogi yang Digunakan Paulus

Untuk memperjelas tujuan dan maksud dari perkatannya Paulus diayat 10 tentang “saat yang sempurna tiba” maka Paulus menggunkan sebuah ilustrasi atau analogi diayat 11 dan 12. Untuk memahami dengan benar arti dari kedua analogi Paulus kita harus mengerti terlebih dahulu cara menafsirkan sebuah gaya bahasa/majas figuratif. Dalam hal ini Stephen Walangare berkata “Sebelum lebih jauh meneliti dua ilustrasi selanjutnya, ada baiknya kita memahami sedikit tentang cara menafsirkan sebuah majas (gaya bahasa) figurasi. Kekurangpahaman tentang hal ini telah menyebabkan beberapa penafsir melewatkan maksud Paulus dalam dua ilustrasi di ayat 11-12. Yang paling penting, ungkapan figuratif tidak boleh ditafsirkan secara mendetail, seolah-olah tiap bagian dari figurasi itu memiliki arti. Sebuah figurasi seringkali hanya menyampaikan satu makna utama. Berikutnya, poin utama yang diekspresikan dalam sebuah figurasi ditentukan oleh konteks pembicaraan. Sebuah figurasi bisa ditafsirkan secara beragam jika figurasi itu muncul tanpa konteks. Di dalam sebuah konteks, figurasi hanya boleh dipahami secara tertentu. Dengan bekal ini, maka kita mencoba menafsirkan dua ilustrasi yang diberikan Paulus di 1 Kor. 13:11-12.”(9)

Analogi Pertama: Transisi Dari Kanak-Kanak Menuju Dewasa

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu” I Korintus 13:11.

Ayat ini sarat dipakai oleh pendukung yang bekata bahwa “yang sempurna” itu adalah kedewasaan rohani jemaat. Analogi Paulus  ini tidak boleh ditafsirakan proses dari tidak dewasa rohani menjadi dewasa rohani. Bagi para pendukung pandangan ini berkta bahwa hanya orang-orang yang tidak dewasa dalam rohanilah yang masih menggunkan bahasa roh sementara mereka yang sudah dewasa secara rohani tidak memerlukan bahasa roh sebab merekasudah bisa berkata-kata secara dewasa. Agak aneh dan lucu memang tafsiran sperti ini. Kalau kita ikuti alur logika berpikirnya, apakah mereka yang tidak berbahsa roh itu berani mengklaim dirinya sudah dewasa secara rohani dibanding orang-orang yang berbahasa roh yang katanya masih kanak-kanak rohani. Siapa yang bisa jamin itu, barangkali justru sebaliknya. Saya tidak sedang mengatakan bahwa orang yang berbahasa roh dewasa rohani. Sebab karunia rohani bukanlah tolok ukur kedewasaan rohani seseorang.

Tafsiran seperti ini tentu tidak beresesuaian dengan teks utama yang dibahas Paulus sebelumnya yang menjadi poin utamanya diayat 8-10. Kalau kita melihat ayat tersebut sangat tidak selaras dengan tafsiran ini.

Stepehen Walangare berpendapat “Poin rasul Paulus diayat 8-10 dibagi dalam dua fase yaitu kesementaraan selama kita didunia masih membutuhkan karunia-karunia rohani seperti bahasa roh, nubuat, pengetahuan dan fase kekekalan yang lengkap dan sempurna, dimana semua karunia rohani sudah tidak diperlukan lagi. Dalam hal ini Stephen Walangrange berkata “Kita perlu menggarisbawahi bahwa transisi yang dimaksud Paulus adalah antara kesementaraan hidup di dunia dan kekekalan di surga. Sehingga kalau dia memberi ilustrasi tentang masa anak-anak ke masa dewasa, maka kita bisa yakin bahwa sebetulnya maksud Paulus cukup sederhana. Masing-masing fase hidup membutuhkan perilaku dan karakteristik yang berbeda. Paulus sedang membicarakan tentang kedatangan sesuatu yang sempurna dan kekal (ayat 10). Sebagaimana kita sudah pelajari bersama, hal ini mengarah pada kekekalan di surga. Menafsirkan transisi dari arah kanak-kanak rohani ke dewasa rohani adalah bentuk penafsiran yang tidak sesuai dengan maksud Paulus”.(10)

Lebih lanjut Stephen Walangare menjelaskan “Sekarang kita hidup di dunia yang sementara (fana), tetapi nanti kita hidup di surga yang kekal. Di dalam kesementaraan, kita butuh macam-macam karunia rohani, tetapi kita tidak akan membutuhkannya lagi jika sudah ada di surga. Poin yang coba diajarkan adalah kepantasan sesuatu pada tahap usia atau masa tertentu. Beberapa perilaku akan sesuai dan bernilai positif jika dilakukan di masa tertentu, tetapi akan terkesan berlebihan dan aneh jika dilakukan di masa yang berbeda. Dalam kalimat yang sederhana, ada perbedaan besar antara kanak-kanak (memang untuk anak-anak) dan kekanak-kanakan (untuk orang dewasa yang berperilaku seperti anak-anak). Berbagai karunia rohani hanya sesuai dan bermanfaat untuk masa sekarang di dunia ini. Pada saat orang-orang percaya sudah berada di surga, semua itu tidak diperlukan lagi. Itulah maksud Paulus”.(10)

Hanya dengan menafsikan analogi diayat 11 berbicara tentang transisi kesementaraan di dunia  menuju kekekalan pada saat kedatangan Yesus yang kedua kali dia akhir zaman, terjadi kesesuaian antara poin utama Paulus dengan analogi yang digunakannya. Dari hasil kajian analogi diayat 11 kita dapat kita diyakinkan bahwa “Yang sempuran” berbicara tentang kedatangan Yesus yang kedua kali.

Analogi Kedua: Melihat Dalam Cermin dan Melihat Muka Dengan Muka

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti sendiri aku dikenal 1 Korintus 13:12.

Sekali lagi untuk memahami analogi ini harus bergantung dari pada teks utama Paulus diayat 8-10, sehingga kita tidak keluar dari jalur tafsiran yang benar. Tentu kita semua tau bahwa pada umumnya baik zaman kuno maupun dizaman modern sekarang ini cermin digunakan untuk melihat diri kita, terutama bagi kaum hawa yang sering menggunakan cermin untuk bersolek. Lewat cermin kita bisa melihat diri kita apakah ada kotoran di muka atau tidak, lewat cermin kita bisa mengenali apakah rambut kita sudah tertata rapi atau berantakan. Lewat cermin bisa melihat diri kita apakah kurus atau gemuk. Intinya cermin berguna untuk melihat refleksi diri kita.

Namun sebaik dan sebagus apapun cermin dalam merefleksikan diri kita, tetaplah hanya sebatas cermin dan bukan aslinya. Itu yang Paulus maksudkan “Gambaran yang samar-samar”. Artinya sehebat apapun cermin dalam merefleksiakn tubuh kita tetap tidaklah sejelas kalau tilihat secara tatap muka dengan muka, bisa melihat secara sempurna dari berbagai sudut dengan sempurna. Dalam Yakobus 1:23 Gambaran Firman sebagai cermin. Firman Allah adalah cemin dari kehidupan kita dan pengenalan kita akan Allah. Akan tetapi sejelas apapun pewahyuan Allah melalui firmannya yang tertulis, tetaplah hanya sebatas “cermin” yang tidak akan sama kalau nanti kita langsung bertemu muka dengan muka dengan Dia, pada kedatangan Yesus yang kedua kali.

Stephen Walangare  berkata “Demikian juga dengan pengenalan kita akan Allah dalam dunia ini, sebagu apapuStephen Walangrange menanggapi “Paulus menambahkan “gambaran yang samar-samar” lalu mengontraskan dengan pertemuan secara langsung (muka dengan muka). Seolah tidak ingin memberi celah sekecil apapun untuk kesalahpahaman, Paulus menerangkan pengetahuan parsial yang kita miliki sekarang dengan pengetahuan lengkap di surga. Dengan kata lain, betapapun beningnya cermin, refleksi yang dihasilkan tetaplah tidak sempurna”. (12)

Melihat muka dengan muka harus dipahami artinya berhadapan dengan Tuhan secara langsung dan  pribadi. Zac Poonen guru alkitab berkata cara menafsirankan alkitab adalah dengan membandingkan ayat dengan ayat lainnya di Alkitab. Dalam Alkitab ada beberapa ayat yang menunjukan bawah Melihat muka dengan muka artinya melihat Tuhan secara langsung dan secara pribadi. Keluara 33:11 “Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya”. Ulangan 5:4 “Tuhan telah berbicara dengan berhadapan muka dengan kami di gunung dan di tengah-tengah api”. Hakim-hakim 6:22 “Maka tahulah Gideon, bahwa itulah malikat TUHAN, lalu berkata: “Celakahlah aku, Tuhanku ALLAH! Sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka”. Wahyu 22:4 “Dan mereka akan melihat wajah-Nya”. Ayat-ayat tersebut cukup membuktikan bahwa maksud Paulus melihat muka dengan muka artinya, melihat Allah secara pribadi dalam kepenuhannya, kapan itu bisa terjadi ? tentu saat Yesus datang yang kedua kali dan kita hidup dalam kekekalan bersama dengan Tuhan.

Kesimpulan :

Dari hasil kajian penulis terkait pernyataan Paulus dalam 1Korintus 13:10 bahwa Frasa “Yang sempurna” itu merujuk kepada kedatangan Kritus yang kedua kali dimana kita akan bertemu muka dengan muka dengan Dia, dalam kekekalan kita akan mengenal Tuhan dengan sempurna. Sekarang ini sampai akhir zaman kita ada dalam kesementaraan yang membutuhkan karunia-karunia rohani seperti karunia bahasa roh, bernubuat dan kata-kata pengetahuan  untuk mempelengkapi anggota tubuh Kristus dalam pelayaanan selama dibumi, untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Allah menuju kesempurnaan. Anggapan sebagaian orang percaya yang mengatakan bahasa roh dan karunia rohani lainnya sudah lenyap adalah salah total dan mempercayai penafsiran yang jelas keliru.

Catan-Catatan :


(1). Continuationism and Cessationism: An Interview with Dr. Wayne Grudem

http://www.challies.com/interviews/continuationism-and-cessationism-an-interview-with-dr-wayne-grudem 

(2) http://charismatic-exposed.blogspot.com/2011/11/bahasa-roh-atau-bahasa-lidah-tongue.html

(3) Wayne Grudem, Systematic Theology Chapter 52, Gifts of the Holy Spirit: (Part 1) General Question

(4) Alkitab, Firmna yang sempurna : Artikel Dr. Suhento Liauw, S. Th., M.R.E., D.R.E., Th. D

 https://www.kristenalkitabiah.com/alkitab-firman-yang-sempurna/

5) [4] Wayne Grudem, Systematic Theology Chapter 52, Gifts of the Holy Spirit: (Part 1) General Questions

(6). Bahasa Roh (Glossolalia) Dalam Persepektif Kharismatik: Pdt. Samuel T.Gunawan

 https://teologiareformed.blogspot.com/2018/12/bahasa-roh-glossolalia-dalam-perspektif.html

(7). Ibid

 (8). Comentary Alkitab : Mattew Henry

https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=46&chapter=13&verse=8

(9). Eksposisi 1 Korintus 13:8-12 bagian 2 : Stephen Walangare
https://www.kompasiana.com/stephenwalangare/5b16072dcaf7db081e0659c2/eksposisi-1-korintus-13-8-12-bagian-2?page=2

(10).Ibid

(11). Ibid

(12). Ibid


Kamis, 30 April 2020

PERAN GEREJA DALAM MENGHADAPI VIRUS CORONA DAN KRISIS EKONOMI


Oleh: Hadiran Halawa

Gereja tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat dunia yang menjadi ladang pelayanannya. Gereja ada bukanlah untuk hidup bagi diri sendiri, atau komunitas. Dalam sejarahnya gereja lahir dan bertumbuh tidak terlepas dari hakekatnya untuk melayani sesama. Gereja hadir dalam setiap pergumulan kehidupan manusia di dunia ini dari masa ke masa, termasuk didalamnya bencana alam, wabah sakit penyakit, krisis ekonomi dan lain-lain.

Yesus dalam pelayanan-Nya di bumi sering sekali bersentuhan dengan orang-orang yang mengalami kesusahan dan penderitaan. Yesus menjadi sahabat bagi mereka yang tidak beruntung, bagi mereka yang miskin dan terlantar. Yesus menegaskan panggilan pelayanan-Nya di bumi ketika mengutip kitab Yesaya pasal 60  seperti yang tertulis dalam Lukas 4:18: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang tawanan, dan penghlihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberikan tahun rahmat Tuhan telah datang.

Dengan semangat panggilan pelayanan Yesus yang telah Ia wariskan kepada gereja masa kini, maka penulis tergerak untuk mengkaji peran gereja dalam menghadapi virus corona dan krisis ekonomi. Gereja tidak bisa menutup mata melihat keadaan dunia secara khsususnya bangsa Indonesisa yang sedang berjuang menghadapi Virus corona dan Krisis ekonomi. Dalam tulisan ini penulis mencoba menguraikan Apa yang gereja dapat lakukan detengah-tengah penderitaan dunia akibat Virus Corona dan krisis ekonomi.

ARTI VIRUS CORONA

Koronavirus  atau coronavirus (istilah populernya: virus korona, virus corona, atau virus Corona) adalah sekumpulan virus dari subfamili Orthocoronavirinae dalamkeluarga Coro naviridae dan ordo Nidovirales.  Kelompok virus ini yang dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia (termasuk manusia).  Pada manusia, koronavirus menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang umumnya ringan, seperti pilek, meskipun beberapa bentuk penyakit seperti SARSMERS, dan COVID-19 sifatnya lebih mematikan. Manifestasi klinis yang muncul cukup beragam pada spesies lain: pada ayam, koronavirus menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas, sedangkan pada sapi dan babi menyebabkan diare. Belum ada vaksin atau obat antivirus untuk mencegah atau mengobati infeksi koronavirus pada manusia.
Koronavirus merupakan virus beramplop dengan genom RNA utas tunggal plus dan nukleokapsid berbentuk heliks simetris. Jumlah genom koronavirus berkisar antara 27–34 kilo pasangan basa, terbesar di antara virus RNA yang diketahui. Nama koronavirus berasal dari bahasa Latin corona yang artinya mahkota, yang mengacu pada tampilan partikel virus (virion): mereka memiliki pinggiran yang mengingatkan pada mahkota atau korona matahari.(1)

VIRUS CORONA DAN DAMPAKNYA

Sudah  lima bulan pandemic  virus Corona telah menginfeksi  penduduk dunia dan sudah 2 bulan Indonesia terserang oleh wabah ini. Virus yang mematikan ini telah merenggut nyawa banyak orang diseluruh dunia terutama para orang tua yang telah lanjut usia dan juga yang sudah punya penaykit kronis bawaan. Berdasarkan data Worldometers yang diperbaharui per pukul 22.19 WIB, tanggal 27 April 2020, total jumlah kasus positif corona di dunia telah menembus angka 3 juta pasien. Pada Senin malam (27/4/2020), jumlah kasus positif corona di dunia telah mencapai 3.019.246 pasien. Sedangkan angka kematian akibat Covid-19 totalnya mencapai 208.112 jiwa.
Di Indonesia  update terbaru yang diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada Senin sore (27/4/2020). Sebanyak 9.096 kasus positif Covid-19 tersebut ditemukan di 288 kabupaten/kota yang tersebar di 34 provinsi. Total pasien positif yang meninggal dunia telah mencapai 765 jiwa (8,41 persen) dan yang berhasil sembuh mencapai 1.151 orang (2). 

Angka orang yang terinfeksi virus corona semakin bertambah tiap-tiap harinya seakan berpacu dengan waktu. Sehingga ada banyak orang yang mulai bertanya kapan Covid-19 ini akan berakhir ?. Ada banyak pakar yang telah mencoba memprediksi berakhirnya virus corona ini. Salah satu yang sudah tak sabar adalah presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Minggu lalu, Trump berkata bahwa wabah ini akan berakhir pada bulan April ketika musim panas dimulai. Namun, apa kata para ahli? Pakar epidemiologi dari China, Zhong Nangshan, yang bertanggung jawab melawan wabah SARS pada 2003 sependapat dengan Trump. (3)

Tidak ketinggalan juga pesan nubuatan yang telah disampaikan oleh beberapa hamba Tuhan yang terkenal diapakai dalam karunia nubuatan, menubuatkan bahawa covid-19 akan berakhir pertengahan april atau sesudah perayaan paskah. Namun semua prediksi para ahli dan nubuatan hamba-hamba Tuhan meleset. Pada kenyataannya covid-19 semakin ganas menyerang penduduk dunia ini hingga saat ini.

Tidak ada satupun yang dapat memprediksi dengan tepat kapan virus corona ini akan berakhir.  Dari sisi iman kita sebagai orang percaya tentu akan berkata bahwa hanya Tuhanlah yang tau kapan covid-19 akan berakhir, karena Tuhan adalah maha tau, dan segala sesuatu ada dalam kontrol-Nya  dan kedaulatan-Nya.

Virus corona telah menjadi sebuah momok ketakutan bagi dunia. Berbagai daya upaya telah dilakukan untuk menghambat dan mencegah virus corona ini. Para tim medis telah berjuang mati-matian digaris depan untuk melawan virus ganas ini. Tidak sedikit diantara mereka yang gugur dimedan perjuangan. Telah banyak doa yang telah dipanjatkan kepada Tuhan untuk menghentikan virus corona, walaupun belum ada hasil secara kasat mata, namun saya percaya bahwa Tuhan menjawab doa dengan caraNya.

Seorang Teolog baptis yang bernama Jhon Piper,  memandang virus corona ini dari sudut pandang kedaulatan Allah. Dalam Tulisannya Jhon Piper berkata “Mengapa saya katakan berita tentang kedaulatan Allah atas virus corona, dan atas hidup saya sebagai sebuah ajaran yang manis di dengar ? Rahasianya, telah saya katakan, adalah mengetahui bahwa kedaulatan yang dapat menghentikan wabah virus corona, meski sekarang tidak melakukannya, adalah kedaulatan yang sama yang memelihara jiwa-jiwa yang sekarang ada di dalamnya (4).

 Virus Corona bagaikan sebuah misteri yang sulit dipecahkan secara akal manusia. Bahkan sampai saat ini belum ada obat vaksin yang berhasil diuji coba untuk membasmi virus corona. Walaupun beberapa ahli menyatakan telah menemukan vaksin seperti di Israel, China dan America namun sampai saat ini belum ada yang bisa menjamin telah lulus uji coba ke manusia. Untuk menguji vaksin temuan para ahli ini juga tidak memakan waktu yang hanya sedikit, dibutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan mungkin tahunan. Tentu kita berdoa supaya prosesnya bisa lebih cepat sehingga bisa mulai digunakan untuk membasmi Covid-19.

Demikian juga penyebab dari virus corona, belum ada yang bisa memastikan dari mana sumber dan apa penyebabnya. Yang hanya kita tahu bahwa pada tanggal 11 Januari 2020, sebuha virus baru yang bernama corona (Covid-19) dilaporkan membunuh korban pertamanya di provinis Wuhan, Cina. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO mengumumkan pandemi global.


Berbagai asumsi tentang asal muasal virus corona yang mematikan ini. Ada yang berpendapat bahwa  corona virus ini berasal dari orang yang memakan hewan liar seperti ular dan kelelawar. Sebab, sejumlah kasus virus corona pertama diduga berasal dari pasar seafood dan hewan liar di Wuhan, Cina. "Ini kemungkinan berasal dari beberapa hewan dan melompat ke manusia," kata Dr. Isaac Bogoch, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Umum Toronto.

Ada juga yang menduga bahwa  virus ini bersal dari sebuh  laboratorium virus yang ada di Wuhan Cina. Salah satu teori yang dicurigai pemerintah AS adalah kebocoran yang tidak di sengaja. Intelijen memastikan pemerintah tidak mempercayai anggapan virus ini sebagai senjata biologis, dikutip dari CNN. Ada kecurigaan bahwa seseorang yang ada di lab terinfeksi karena kecelakaan kerja atau ketidakhati-hatian dalam membawa material sehingga terjadi infeksi kepada manusia. (5)

Namun semua dugaan ini belum dapat dipastikan kebenarannya. Dari sudut pandang agama,  ada orang  yang mempertanyakan apakah ini adalah suatu bentuk penghukuman Allah atas manusia, yang artinya bisa saja Tuhan memakai virus corona, atau Tuhan dalam kedaulatnnya mengizinkan Iblis yang memaki virus corona untuk membawa penghukuman bagi manusia yang berdosa.

Dalam menjawab pertanyaan tersebut Jhon Piper memberikan pandangannya dengan berkata “Kenyataaanya bahwa semua penderitaan adalah hasil dari kejatuhan manusia ke dalam dosa-Masuknya dosa yang menolak Allah di dunia – tidak berarti bahwa semua penderitaan manusia adalah penghakiman dari Alllah yang khususnya terhadap dosa-dosa pribadi. Misalnya penderitaan Ayub tidak disebabkan dosa-dosanya”.(6)

Lebih lanjut Jhon piper menerangkan bahwa, Meski demikian, terkadang Alllah memakai penyakit untuk menjatuhkan penghakiman Khusus kepada mereka yang menolak-Nya dan menyerahkan diri kepada dosa. Dua cotonh penghakiman khusus atas dosa di dalam Alkitab, raja Herodes menyombongkan diri dengan mengizinkan orang-orang menyebutnya allah. “Seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi  hormat kepada Allah (Roma 1:27). Contoh lain adalah dosa hubungan seks sesama jenis. Di dalam Roma 1:27, rasul Paulus bekata “Suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasa yang setimpal untuk kesesatan mereka”(7)

Jhon piper dalam kajian Teologisnya terhadap virus corona berkata bahwa virus corona tidak pernah merupakan hukuman yang pasti dan sederhana atas seseorang. Orang-orang Kristen yang paling mengasihi dan dipenuhi Roh Kudus, yang dosa-dosanya telah diampuni di dalam Kristus bisa saja mati karena Corona. (8)

Telah banyak orang Kristen  dan hamba-hamba Tuhan yang telah kehilangan nyawanya karena serangan virus corona ini. Di Indonesia sendiri  sudah ada puluhan hamba Tuhan meninggal karena virus corona, apakah kita berani berkata bahwa itu adalah hukuman Allah atas perbuatan mereka yang berdosa ?. Lagi pula firman Tuhan berkata dalam Roma 8:1, “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”. Kalaupun harus mengalami penderitaan itu adalah sebuah tindakan disiplin dan bukan kehancuran.

Terlepas  penyebab Virus corona yang  misterius ini dan yang telah membuat umat manusia dalam penderitaan yang hebat, satu hal yang kita yakini bahwa semua tetap ada dalam kontrolnya Tuhan. Jhon Piper berkata “Sekalipun Iblis, menurut perkenan Allah, menjamah kita dengan penderitaan dan kematian, ia tidak mengendalikan hasil akhirnya , Ia tidak dapat melukai kita tanpa izin dan batasan dari Allah (Ayub 1:12;  Lukas 22:31; 2 Kor.12:7) Dan pada akhirnya, kita berhak mengatakan kepada Iblis apa yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya yang dulu menjualnya ke dalam perbudakan: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan”  Kej.50:20. (9).

KRISIS EKONOMI

Tidak bisa dipungkiri bahwa dampak virus corona tidak hanya merusak tubuh manusia yang menyebabkan kematian yang begitu banyak diseluruh dunia, tetapi juga telah memukul sendi  perekonomian  dunia dengan kerusakan yang sangat parah. Menjadi negara pertama yang terindikasi Virus Corona Covid-19 ini, China yang pertama kali merasakan dampak buruk bagi perekonomian. Dampak yang disebabkan antara lain adalah penurunan dalam sektor ritel sebesar 20.5 persen, investasi aset yang turun sebesar 25 persen dan output industri yang turun hampir 13.5 persen, angka pengangguran di Tiongkok juga mengalami kenaikan sebesar 6,3 persen pada Februari lalu. Salah satu alasannya adalah karena China sempat memberlakukan sistem lockdown di negaranya yang berdampak juga pada alur bisnis.

Negara Italia adalah negara kedua yang terkena dampak Corona terbesar setelah China. Berdasarkan data penyebaran virus Corona Global, ada sekitar 35.713 kasus virus Corona dan angka meninggal mencapai 2.978 orang di Italia. Wilayah yang paling terkena dampak dari virus Corona ini adalah bagian Utara dari Italia. 

Pemerintah memberlakukan kebijakan lockdown ke seluruh negeri, mematikan ekonomi ritel, dan menutup semua toko kecuali apotek. Masyarakat tidak diizinkan untuk keluar dari rumah, kecuali belanja kebutuhan pokok sehari-hari atau jika memang ada hal darurat yang harus dilakukan diluar rumah. 

Pemerintah juga membatalkan event perdagangan besar seperti Milan Furniture Fair, dan banyaknya pembatalan lain yang membuat sektor industri pariwisata Italia juga menurut drastis. 
Presiden Amerika beberapa saat lalu menyatakan keadaan darurat nasional dan mengeluarkan dana darurat sebesar USD 8.3 miliar untuk menangani wabah penyebaran virus Corona. Dampak yang disebarkan oleh Corona ini sebanyak 9.345 kasus dengan angka kematian 150 orang. 

Sama seperti negara-negara lain, Covid-19 ini memberi dampak besar di sektor perekonomian Amerika. Salah satu sektor yang terkena dampak adalah sektor pariwisata dan hiburan. Selain pariwisata, bisnis lain seperti restoran, pertunjukan, bioskop, kasino pun terkena imbasnya. (10)

Tak terluput Indonesia yang menjadi bagian dari pada dampak ekonomi Global karena wabah virus corona. Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan dampak penyebaran virus corona terhadap ekonomi akan lebih kompleks dibandingkan dengan krisis yang terjadi pada 1997-1998 dan 2008-2009. Pasalnya, wabah tersebut tak hanya berdampak pada nyawa manusia tapi juga hampir seluruh sektor ekonomi.

"Kami sampaikan virus corona jauh lebih kompleks dari 1997-1998, karena saat itu kami tahu penyebab dan bisa menahan. Kalau yang virus corona belum tahu penahannya apa," ucap Sri Mulyani melalui video conference, Senin (6/4). (11)


Minimal ada 8 dampak negatif virus corona bagi perekonomian Indonesia :
Pertama, sampai 11 April lebih dari 1,5 juta karyawan putus kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan. Di mana 1,2 juta pekerja itu berasal dari sektor formal, 265.000 dari sektor informal. 
Kedua, Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia di bawah level 50 yakni hanya 45,3 pada Maret 2020.
 Ketiga, lebih dari 12.703 penerbangan di 15 bandara dibatalkan sepanjang Januari-Februari, dengan rincian 11.680 penerbangan domestik dan 1.023 penerbangan internasional.
Keempat, sekitar Rp 207 miliar kehilangan pendapatan di sektor pelayanan udara, dengan sekitar Rp 48 miliar kehilangan disumbangkan oleh penerbangan dari China.
 Kelima, angka turis menurun hingga 6.800 per hari, khususnya turis dari China. 
Keenam, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia memperkirakan penurunan tingkat okupansi di sekitar 6.000 hotel di Indonesia dapat mencapai 50%. Ini bisa mempengaruhi turunnya devisa pariwisata lebih dari setengah tahun lalu.
Ketujuh, impor Indonesia sepanjang Januari-Maret 2020 turun 3,7% year to date (ytd).
Kedelapan, inflasi pada bulan Maret 2020 tercatat sebesar 2,96% year on year (yoy) disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan serta beberapa harga pangan yang melonjak. Meski, terjadi deflasi pada komoditas aneka cabai dan tariff angkutan udara. (12)

Melihat kenyataan dampak ekonomi Global khususnya dampak bagi ekonomi di Indonesia yang dengan jelas telah menyebabkan  Krisis Ekonomi besar, pastinya hal itu berpengaruh besar dalam kehidupan masyarakat, khsusunya masyarakat kecil yang mengalami kelumpuhan ekonomi. Dengan banyaknya perusahan-perusahan yang tutup otomatis banyak karyawan juga yang dirumahkan dan yang penghasilannya jadi berkurang bahkan mungkin ada banyak yang sudah tidak dapat penghasilan lagi. Belum lagi  pelaku usaha UMKM yang tutup, masyrakat yang menggantungkan hidupnya dari penghasilan sehari seperti ojek online, tukang bangunan dan lainnya pasti sangat terpukul berat dengan kondisi seperti ini.

Kita bisa bayangkan seorang ayah yang kehilangan pekerjaannya karena di PHK atau bahkan mungkin ayah dan ibu dua-duanya di PHK dari tempat pekerjaanya. Bagaimana dengan kehidupan anak-anaknya yang harus dikasih makan, belum lagi cicilan rumah, cicilan kendaraan, asuransi dan  sejumlah kebutuhan mendesak lainnya yang harus dibayar. Tentu ini sebuah kondisi yang tidak mudah, bahkan untuk dibayangkan saja apalagi dijalani.

PERAN GEREJA DALAM SEJARAH

Gereja tentu tidak hanya berdiam diri dan berpangku tangan melihat kenyataan ini. Gereja harus berperan aktif dalam menghadapi Virus corona dan Krisis ekonomi. Gereja terpanggil menjadi terang dan garam bagi dunia. Matius 5:13 “Kamu adalah garam dunia, Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan ? tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak. Gereja harus bisa menjadi jawaban bagi permasalahan yang sedang dihadapi dunia bukan hanya secara teroritis tetapi dalam aksi nyata.

Bill Hybels dalam bukunya COURAGEOUS LEADERSHIP berkata “Gereja adalah satu-satunya tumpuan harapan dunia” Gereja bisa hadir memberikan kontribusi dan solusi terbaik ditengah penderitaan dan Krisis ditengah dunia ini. Gereja bukan hanya sebuah komunitas, gereja bukan hanya sebuah ladang mencari identitas diri, gereja bukan hanya sarana belajar berorganisasi, gereja bukan hanya ballroom untuk ibadah, gereja bukan untuk menunjukan identitas diri, gereja ada bukan membuat manusia jadi egois. Gereja ada bukan untuk mengajarkan orang-orang menjadi eksklusif. Gereja ada bukan untuk membangun “kerjaan-kerajaan” kecil. Gereja ada bukan untuk memntingkan diri dan memperkaya diri. Gereja ada untuk melayani, menjadi terang dan garam bagi dunia.

Gereja telah berperan aktif dalam sejarah peradaban manusia ketika dibutuhkan. Saat gereja dibutuhkan untuk pengabaran injil yang intensif, gereja mula-mula telah melakukannya dengan baik. Saat gereja dibutuhkan menghadapi bidat-bidat, gereja jaman Yunani telah berperang dengan baik. Saat gereja dibutuhkan kewibawaanya melalui kekuasaan pemerintah, gereja zaman Katolik telah melakukannya dengan baik.Saat gereja perlu diperbaharui dari penyelewangan, gerja zaman reformasi protestan telah menjalankan dengan baik. Saat gereja harus memberikan pencerahan dari kebodohan, gereja diabad dalam dunia yang kompleks, lahirlah gereja dengan paradigma misi. (13)

Orang Kristen telah berperan aktif dalam menangani wabah penyakit di era Kekaisaran Romawi. Para sejarawan mencatat Wabah antonine mengerikan dari abad ke-2 yang memungkinkan telah membunuh seperempat Kekaisaran Romawi. Orang Kristen hadir disana mewartakan kasih Kristus melalui tindakan nyata, menolong orang-orang sakit, merawat, membagi makanan dan lain sebagainya sebagai hasilnya menyebabkan penyebaran agama Kristen.

Di era Kekaisaran Romawi wabah yang paling terkenal wabah siprianus. Namanya berasal dari seorang uskup yang menyampaikan kisah penuh warna tentang penyakit tersebut dalam khotbah-khotbahnya. Diduga penyakit Ebola. Wabah Siprianus membantu memicu krisis abad ketiga di peradaban Romawi. Namun wabah itu juga memicu pertumbuhan Kristen.Orang-orang Kristen pada eranya telah berperan dengan baik dengan semangat pengajaran Yesus “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31). (14)

TIGA TUGAS DAN PANGGILAN GEREJA

Dalam bingkai tugas dan panggilan gereja dalam dunia ini yaitu  Koinonia (Persekutuan), Marturia (Kesaksian) dan Diakonia, gereja dapat mengambil peran aktif dalam menghadapi wabah virus corona dan krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia dan penduduk dunia.

Peran Gereja Dalam Bentuk Koinonia (bersekutu)

Koinonia berasal dari bahasa Yunani “Koinon” yaitu bersekutu. Kata Koinonia baik dalam Alkitab, maupun dalam masnyarakat Yunani pada waktu itu tidak terbatas pada salah satu pengertian saja, melainkan mempunyai arti yang luas sesuai dengan keadaan yang berlaku pada waktu itu dan situasi tertenu. Dalam masyarakat Yunani kata Koinonia seringkali dipakai untuk menggambarkan hubungan manusia dengan ilah-ilah. Hubungan itu dibayangkan sebagai hubungan atar teman (koinonos). Koinonein berarti bergaul secara akrab dengan ilah-ilah, supaya mencapai mistik yang membawa kepada kebahagiaan yang hebat itulah sebabnya septuaginta (Perjanjian Lama yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani)

Koinonia tidak pernah menggambarkan hubungan antara Allah dengan manusia. Di dalam Perjanjian Lama kata hamba (lbr :ebed) dipakai, bukan teman untuk menggambarkna hubungan Allah dengan manusia, manusia adalah hamba Allah. Allah sebagai khalik dan manusia sebagai makhluk. Namun dalam perjanjian baru ada perubahan: kaena melalui Yesus Kristus manusia bisa dipersatukan kembali dengan Allah. (15)

Harun Hadi Wojono berkata “Dalam 1 Korintus 1:9 rasul Paulus berkata bahwa Tuhan Allah telah memanggil orang-orang Kristen di Korintus kepada pesekutuan dengan anakNya Yesus Kristus. Dari kata-kata Paulus ini jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “panggilan” adalah ini, bahwa orang dipanggil untuk bersukutu dengan Kristus, sebab persekutuan itulah yang menyelamatkan”. (16)

Gereja tidak hanya dipanggil untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi tetapi juga besekutu dengan sesama anggota tubuh Kristus dalam ibadah ataupun dalam doa. Ditengah-tengah pergumulan bangsa kita yang sedang mengalami penderitaan berat karena virus corona yang menyebabkan Krisis ekonomi. Gereja bisa mengambil bagian dalam menyelesaikan masalah ini. Gereja dipanggil untuk bersekutu, bersatu hati berdoa untuk bangsa kita. Dalam tugas dan panggilan gereja untuk bersekutu dengan Tuhan melalui doa, setiap orang Kristen ikut serta untuk mendoakan bangsa dan negara, mendoakan keselamatan Indonesia.

Walaupun saat ini orang percaya tidak bisa berkumpul di gereja untuk ibadah  karena anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing, itu tidak menjadi penghalang gereja sebagai tubuh Kristus untuk tetap bersekutu dalam doa. Kita bersyukur dengan kecanggihan teknologi sehingga bisa melaksanakan ibadah online, bisa melakukan pertemua/persekutaun doa via aplikasi zoom. Hal itu tidak mengurangi esensi dan nilai persekutuan kita dalam Kristus untuk berdoa dengan sehati dan dengan tekun untuk bangsa kita

Dimulai dari pemimpin-pemimpin gereja yang mau bersatu hati berdoa, saatnya mengesampingkan perbedaan doktrin yang yang selama ini menjadi tembok pemisah antara denominasi yang satu dengan denominasi gerja lain. Gereja sebagai tubuh Kristus dibutuhkan andilnya untuk berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara. Hal ini akan tercapai kalau gereja sebagai anggota tubuh Kristus bisa sepakat bersatu hati berdoa.

Saatnya menanggalkan semua keegoan dan arogansi organisasi gereja dan berlutut,merendahkan berdoa bersama dengan ratap tangis untuk negeri kita tercinta Indonesia. Ini bukan saatnya untuk saling memperdebatkan doktrin mana yang lebih benar, ini saatnya bukan untuk saling menyerang antara hamba Tuhan yang satu dengan hamba Tuhan yang lain, ini saatnya bukan untuk saling mengkritisi pengajaran gereja yang satu dengan gereja yang lain. Mari tanggalkan itu semua, sekarang ini dibutuhkan kesatuan hati khsusus para pemimpin-pemimpin gereja berserta seluruh jemaat untuk  bersekutu dengan Tuhan dalam doa memohon belaskasihannya atas bangsa kita.

Kesatuan gereja sangatlah penting supaya bisa berdampak ditengah-tengah dunia. Yesus pernah berdoa supaya gereja bersatu. Yohanes 17:11 Dan aku tidak ada lagi dalam dunia tetapi mereka masih ada dalam dunia  dan Aku datang kepada-Mu ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku supaya mereka menjadi satu sama seperti kita.

Kualitas kesatuan para murid yang didoakan Yesus adalah seperti diri-Nya dan Bapa. Standar kesatuan di sini adalah Allah sendiri. Dan itu bukan suatu yang mustahil dilakukan. Para murid setelah kenaikan Tuhan Yesus ke surga telah mewujudkannya ketika, menurut catatan Lukas, ”Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kis. 1:14). Gereja mula-mula terlah berdampak besar bagi dunia oleh karena mereka bersatu hati berdoa dengan tekun.

Firman Tuhan dalam Tawarikh 7:14 berkata “Dan umat-Ku yang atasnya namaku disebut merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. Melalui ayat ini kita bisa lihat bahwa umat Tuhan punya peranan penting untuk dipulihkannya sebuah bangsa. Kalau kita percaya bahwa hanya tangan Tuhan yang penuh kuasa yang bisa menyembuhkan bangsa kita dari virus corona dan memulihkan perokonomian bangsa kita, maka kita sebagai bagian dari pada bangsa ini harus berdoa dalam kesatuan dan bersungguh hati, memohon pertolongan Tuhan

Di zamannya, Daniel pernah berdoa memohon pengampunan bagi bangsanya. Daniel9:16-19
Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami. Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri. Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!


Daniel menyadari dosa-dosanya dihadapan Tuhan dan menyadari dirinya sebagai bagian dari suatu bangsa yang sangat berdosa dan tercela. Sebagai imam dia berdoa untuk pendamaian bangsanya dihadapan Tuhan. Curahan hati Daniel terlihat dalam desakan doanya “Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah ! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah, dengan tidak bertangguh”. (17)

Nabi Yeremia Juga berdoa untuk bangsanya yang tengah mengalami penderitaan yang hebat. Yeremia menyadari bahwa penderitaan besar yang dialami bangsanya adalah akibat dosa mereka sendiri. Oleh sebab itu sebagai bagian dari bangsanya Yeremia dengan kesungguhan hati menaikan doa syafaat kepada Tuhan. Yeremia berdoa begini Ratapan 5:16&21)“Mahkota kami telah jatuh dari kepala kami, wahai kami, karena kami telah berbuat dosa”. Bawalah kami kembali kepada-Mu ya Tuhan, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala.

Ditengah wabah virus corona yang sedang melanda Indonesia dan dunia disertai dengan krisis ekonomi sebagai akibatnya, Apakah gereja hanya berdiam diri dan jadi penonton saja. Apakah kita sebagai gereja Tuhan merasa bagian daripada negara ini ?. Kalau kita merasa bahwa kita adalah bagian dari pada negeri ini maka kita harus berdoa syafaat untuk bangsa kita. Kita bawa bangsa kita dihadapan Tuhan, Memohon pengampunan Allah untuk negeri kita seperti yang dilakukan Daniel. Yesus berkata “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya” (Matius 21:22).

Peran Gereja Dalam Bentuk Marturia (Bersaksi)

Istilah “Marturia” berasal dari bahas Yunani “Martureo”, dan kata yang berakar padanya, “martus, marturia dan marturion”. Artinya “saksi”. Saksi ialah orang yang memberi kesaksian tentang sesuatu yang ia sendiri telah melihatnya. Hanya dalam Yesaya 8:16, 20, kesaksian berbeda dipisahkan dari saksi.
Para rasul adalah saksi-saksi utama tentang hidup dan kebangkitan Kristus ( Yoh. 21; 24; Kis. 1:22; 2 dan Ptr. 16). Dalam gereja purba, kata Yunani “Martus” menjadi terbatas, terutama untuk menyebut mereka yang setia kepada imannya kendati sampai mati sekalipun. Penggunaan kata itu dalam arti demikian dikenal di Indonesia sebagai martir.
Dalam dunia Kristen modern, “kesaksian” berarti cerita tentang apa yang dikerjakan Kristus atas hidup seseorang menjadi pengalaman hidup orang itu. (18)

Martuaria (beraksi) bagian penting dari tugas dan panggilan gereja yang tiak bisa kita abaikan dalam keadaan dan situsai apapun. Misi penginjilan adalah suatu perintah yang harus dilaksanakan oleh gereja. Perintah Allah adalah "pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus; dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Matius 28:19-20). "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Markus 16:15). "Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga dan dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem" (Lukas 24:46-47). "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8).

Jhon Piper dalam bukunya “Coronavirus And Christ” berkata mengaitkan virus corona dengan kegiatan misi tampaknya sebuah gagasan yang aneh, sebab dalam jangka pendek, virus corona menutup semua akses perjalanan, migrasi, dan kemajuan misionaris. Namun, saya tidak sedang berpikir dalam jangka pendek. Allah telah memakai penderitaan dan pergolakan sejarah untuk menggerakkan jemaat-Nya ketempat-tempat yang perlu dikunjungi. Saya menduga Ia akan melakukannya lagi sebagai bagian dari dampak jangka panjang dari wabah virus corona. (19)

Lebih lanjut Jhon Piper berkata “sebagai contoh, pikirkan bagaimana Allah menggerakkan umat-Nya dari Yerusalem, melalui misi, ke Yudea dan Samaria. Yesus memerintahkan kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, termasuk “di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan samapi ujung bumi” (Kis 1:18). Namun, pada waktu Kisah para Rasul 8. Tampaknya misi itu terhenti di Yerusalem. Apa yang diperlukan untuk menggerakkan gereja ke dalam paradigma misi ? Kematian Stefanus dan penganiayaan yang mengikuti setelah itu. Segera setelah Stefanus mati martir (Kis.7:60), penganiayaan terhadap orang-orang Kristen merebak. Begitulah cara Allah menggerakkan umat-Nya—dengan kemartiran dan penganiayaan. Pada akhirnya, “Yudea dan Samaria” mendegar Injil. (20)

Sejarah perjalanan misi penginjilan telah membuktikan bahwa Tuhan seringkali memakai situasi sulit, seperti penderitaan, wabah penyakit untuk memperluas pemebritaan Injil. Bukan mustahil untuk melakukan pengijilan ditengah wabah virus corona dan krisis ekonomi. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat dunia ini serasa tidak ada halangan untuk komunikasi satu dengan yang lain. Dalam 15 tahun terakhir media sosial telah memegang peranan penting dalam misi penginjilan. Diperkirakan lebih dari 2 miliar orang menjadi pengakses internet, dan lima 5 miliar  orang menggunakan handphone. Apalagi sekarang karena virus corona orang lebih banyak tinggal di rumah/kerja dari rumah pasti orang lebih banya habiskan waktu di media sosial. Ini adalah kesempatan bagi gereja untuk terus melakukan pelayanan penginjilan memberitakan tentang Kristus yang menjadi jawaba bagi semua persoalan dalam dunia ini. Yesus adalah jawaban satu-satunya.

Ditengah-tengah kekhwatiran dan ketakutan dunia akan virus corona yang belum kunjung berhenti justru semakin bertambah parah tiap-tiap harinya saya melihat di media sosial ada banyak orang dari berbagai negara dibelahan dunia mulai mencari Tuhan, mulai membuka hatinya untuk Krsitus. Ada banyak orang yang berdoa dengan ratap tangis dijalan-jalan memohon belaskasihan Tuhan. Tidak terkecuali sejumlah anggota konggres Amerika yang berdoa.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, terlihat salah satu anggota congres memimpin doa dengan menangis memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa Amerika, memohon belas kasihan Tuhan untuk menyembuhkan Amerika dari wabah Virus corona. Amerika telah lama “membuang” Tuhan dan Firman-Nya  dari gedung putih dan juga di sekolah-sekolah negeri. sekarang mereka datang bertekuk lutut berdoa memohon pengampunan Allah atas dosa-dosa mereka. Kini saatnya mereka menyadari bahwa hanya Tuhan yang sanggup menolong dunia dari serangan wabah virus corona yang semakin menyeramkan.

Jhon Piper berkata bahwa cakupan dan keseriusan wabah virus corona terlalu besar untuk disia-siakan. Itu akan melayani rencana global-Nya yang tak terkalahkan dalam penginjilan dunia. Kristus tidak mencurahkan darah-Nya dengan sia-sia. Wahyu 5:9 berkata bahwa oleh darah itu, Ia menebus mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa”. (21)

Peran Gereja Dalam Bentuk Diakonia (Pelayanan)

Istilah “diakonia” berasal dari bahasa Yunani,  διακονια artinya pelayanan, sedangkan orang yang melakukannya disebut sebagai pelayan (δίακονος).

Diakonia adalah bagian terpenting dari ketiga dari tiga tugasa dan panggilan gereja dalam dunia yang diwariskan oleh Yesus sendiri. Oleh sebab itu pelayanan diakonia bukanlah sebuah pilihan bagi gereja, melainkan tugas yang amat penting yang harus dikerjakan. Hidup mati sebuah gereja terletak dari pelayanan diakonia. Gereja yang hidup adalah gerja yang melakukan pelayanan diakonia tetapi gereja yang mati adalah gereja yang tidak melakukan pelayanan diakonia. J.C. Sikkel pernah berkata bahwa gereja bisa teap hidup tanpa bangunan atau gedung, tetapi gereja tanpa pelayanan diakonia pasti mati. Pelayanan diakonia adalah “roh” dari pada gereja itu sendiri. Pelayanan diakonia adalah nafas dan DNA dari gereja.

Marturia dan diakonia seumpama dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan dalam pelaksanaanya, yang harus berjalan berdampingan. Keduanya mempunyai tujuan yang sama mewartakan kasih Kristus bagi dunia ini. Diakonia bentuk dari marturia dalam aksi nyata dengan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan. Membagikan Kasih Yesus secara nyata melalui perbuatan kepada setiap yang perlu. Dalam kenyataanya terkadang perbuatan lebih berbicara kencang dari pada hanya sekedar kata-kata, sebab orang bisa melihat dan merasakan langusung bentuk dari pada kasih Kristus.

Dasar Alkitab dalam melakukan pelayanan diakonia adalah teladan dari pada hidup Yesus sendiri selama di bumi. Yesus pernah berkata bahwa tujuan kedatangannya di bumi adalah untuk melayani (Markus 10:45). Hal  ini diteguhkan oleh Paulus yang berkata bahwa Yesus datang menjadi hamba dan menjadi sama seperti manusia (Filipi 2:7).

Jadi, sifat dan sikap gereja dalam ber-diakonia berdasar pada sifat dan sikap Yesus Kristus sebagaimana telah dinyatakan dan dilakukan di dalam pelayanan-Nya. Sebagaimana Kristus hidup demikianlah juga gereja hidup. Yesus Kristus bukan hidup untuk diri-Nya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Demikian juga orang Kristen telah menjadi warga gereja atau tubuh Kristus. Baik secara pribadi maupun secara bersama-sama, gereja harus melakukan pelayanan terhadap sesame anggota pesekutuan dan terhadap orang lain di Luar Persekutuan.(22)

Pelayanan diakonia sering dipahami hanya sebatas konsep caritas, membantu para janda, yatim piatu, fakit miskin demi kesejahteraannya. Sebenarnya, gereja dalam pelayan diakonia harus mencakup : pelayanan diakonia mencakup upaya pemahaman akar penyebab keprihatinan social sekaligus mengembangkan prakarsa pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.
Hanya dengan pemahaman pelayanan diakonia sedemikian gereja dapat berfungsi sebagai agen transformasi ditengah masyarakat sebagai pewujudan karya keselamatan Yesus Kristus. Gereja menjadi garam dan terang dunia. (23)

Wabah virus corona talah manjadi masalah bagi dunia, bukan hanya di Indonesia. Kerusakan dan penderitaan yang ditimbulkan tidaklah sedikit. Sebab selain menghancurkan kesehatan masyarakat yang telah merenggut nyawa banyak orang, juga berimbas kepada berbagai aspek kehidupan, khsusunya dibidang ekonomi. Ada banyak pelaku usaha bisnis yang gulung tikar, ada banyak karyawan perusahaan yang di PHK, ada sebagian orang yang gajinya hanya dibayar setengah saja. Ini masalah besar yang sedang dihadapi oleh bangsa kita. Dengan banyaknya penggangguran rawan meningkatnya kriminalitas di masyarakat. Secara khsusus masyarkat kecil yang begitu kena dampaknya akan berupaya bertahan hidup dengan segala macam cara.

Pemerintah kita telah berusaha sekuat tenaga dengan segala daya upaya untuk memutuskan mata rantai virus coroan, yaitu mengajak masyarakat rajin mencuci tangan (dengan sabun), menjaga jarak (sekitar 2 meter) dalam interaksi sosial, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan. Di samping itu berbagai kebijakan lain juga diambil seperti pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Untuk meminimalisir dampak ekonomi terhadap masyakat, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan diantaranya seperti bantuan langusung tunai (BLT), Kartu Prakerja, subdsi listrik dan yang lainnya.Tentu kita sebagai gereja tidak membiarkan pemerintah bekerja sendiri. Gereja harus ikut berperan dalam membantu mengatasi kondisi pelemahan ekonomi keluarga. Gereja harus hadir dalam kapasitasnya melakukan pelayanan diakonia. Sekecil apapun tindakan nyata dari gereja dalam melakukan pelayanan diakonia pasti sangat membantu pemerintah dan masyarkat bisa tertolong.

Langkah konkret program gereja yang dapat dilakukan adalah pertama-tama menetapkan tindakan kasih gereja di dalam dan di luar gereja. Khusus di luar gereja, hal penting yang perlu dilakukan adalah menetapkan siapa yang akan ditolong dengan memperhatikan beberapa indikator diatas. Prinsip pertama yang secara umum dipraktekkan dalam sejarah gereja adalah memperhatikan orang yang terdekat yang sangat membutuhkan. Martin Bucer, sebagaimana dikutip Oden, menegaskan prinsip kepada siapa tindakan ini dapat dilakukan yaitu yang pertama kepada keluarga entah itu karena relasi darah, pernikahan atau karena relasi yang lain. Bagi Bucer, jikalau keluarga sendiri sudah dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik ke dalam keluarganya dalam relasi ikatan dekat itu, maka gereja memiliki sumber-sumber yang lebih untuk menolong mereka yang tidak memiliki rumah dan keluarga. Karena itu dalam hal ini gereja harus mengajarkan perihal tanggung jawab mereka dalam kaitan dengan orang miskin dan tidak beruntung yang ada diantara keluarga mereka. (24)

Prinsip kedua yang Bucer paparkan adalah menolong mereka yang tidak memiliki bantuan keluarga, khususnya yang dekat dengan gereja lokal dan kemudian menyebar kepada masyarakat luas dan antar negara. Dalam hal ini kemurahan Allah harus dbagikan kepada semua tanpa diskriminasi atas dasar suku, gender, klan, dan nasionalitas. Kemurahan ini harus terpenetrasi secara universal kepada mereka yang membutuhkan. Sebagaimana Cyprianus sang Bapa Gereja mengatakan, seperti yang dikutip oleh Oden. (25)

 Kita tidak tau kapan Pandemi Covid-19 ini akan berakhir  mungkin membutuhkan waktu yang lama, kita berdoa secepatnya berkahir. Gereja harus berperan dalam melakukan pelayanan diakonia. Walaupun saat ini kita “terkurung” di rumah saja karena anjuran pemerintah, namun bukan berarti hati kita juga ikut terkurung. Barangkali ada keluarga, teman, tetangga kita yang mungkin membutuhkan pertolongan sebisa mungkin kita bantu. Lakukan apa yang dapat kita  lakukan untuk membantu orang lain, terutama orang lanjut usia, orang cacat, orang miskin dan terisolasi. Barangkali gereja juga harus belajar hidup dalam kesederhanaan, hidup hemat, menahan pembelanjaan dan konsumsi yang tidak terlalu perlu, dengan demikian kita masih bisa berbagi dengan orang yang kekurangan disekitar kita.

KESIMPULAN :

Tuhan Yesus telah memberikan warisan keteladan bagi gereja selama pelayanan di bumi, Yesus telah hadir ditengah-tengah penderitaan dan kesusahan masyarakat dunia dan telah menjadi jawaban bagi persoalan mereka. Yesus telah menjadi sahabat bagi orang susah dan orang lemah. Demikian juga gereja sebagai tubuh Kristus dalam dunia ini harus mengambil peran dalam setiap pergumulan hidup masyarakat dunia dan menjadi jawaban.

Dalam sejarahnya gereja telah berperan dalam masanya dalam setiap persoalan hidup di dunia. Saat  dunia secara khsusus Indonesia sedang dalam pergumulan berat karena wabah virus corona yang berkepanjangan ini dan yang telah melumpuhkan ekonomi bangsa, gereja juga harus hadir dan berperan aktif dalam bingkai tugas panggilanya dalam dunia yang Bersekutu (Koinonia), Bersaksi (Marturia) dan Melayani (Diakonia). Kiranya dengan kehadiran dan peran aktif gereja menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini. Dengan demikian gereja telah mewartakan kasih Kristus bagi dunia ini. Paulus berkata “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Gal. 6:2). 


Catatan-Catatan:
4.Piper Jhon, Coronavirus And Christ,Literatur perkantas Jatim, 2020, hlm. 43
5.Op Cit, hlm 63
6.Ibid, hlm. 64
7.Ibid, hlm.65
8.Ibid, hlm.
15.Wijono Hadi Harun, Iman Kristen, Jakarta BPK.GMMulia, hlm.395
17.Op Cit. hlm.89
18.Ibid, hlm.90
19.Ibid.hlm
20.Ibid, hlm.91
25.Ibid.hlm