Minggu, 26 April 2020

APAKAH BOLEH BERBAHASA ROH SECARA KORPORAT ?


Oleh: Hadiran Halawa

Pada umumnya gereja Pentakosta-Kharismatik menggunakan bahasa roh dalam kegiatan ibadah mereka baik ibadah secara pribadi, maupun ibadah secara korporat di gereja dan dipersekutuan doa. Khususnya pada saat berlangsungnya pujian penyembahan dan doa biasanya sering menggunakan bahasa roh secara spontan dan besama-sama. Tetapi kemudian kebingungan muncul baik dikalangan Pentakosta Kharismatik maupun non-kharismatik ketika timbul pertanyaan-pertanyaan terkait penggunaan bahasa roh dalam ibadah dikaitkan dengan pernyataan Paulus di dalam 1 Korintus 14:23-24, 26-28.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menyinggung perihal aturan penggunaan karunia bahasa roh dalam pertemuan jemaat. Terlebih lagi di ayat 27-28 Paulus berkata : Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada orang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah”.

Dari ayat ini sering sekali terjadi perdebatan sengit dan pemisahan pandangan antara yang pro dan kontra terhadap penggunaan bahasa roh dalam ibadah. Biasanya ayat ini menjadi jurus pamungkas bagi orang yang kontra terhadap penggunaan bahasa roh dalam ibadah. Sehingga hal ini tentu semakin menambah kebingungan tersendiri di kalangan gereja Pentakosta Kharismatik, alhasil ada gereja tertentu yang akhirnya tidak lagi menggunakan bahasa roh dalam ibadahnya dan hanya boleh menggunakannya secara pribadi dalam doa/ibadah pribadi di rumah. Sebagian besar lagi masih tetap menggunakannya dalam ibadah yang walaupun mungkin belum punya dasar yang kuat  melakukannya,namun karena mungkin sudah menjadi sebuah tradisi maka masih terus saja menggunakannya dalam ibadah.

Melihat masalah ini, penulis kemudian terdorong untuk mengakaji apa sebenarnya yang Paulus ingin mau sampaikan kepada jemaat di Korintus. Apakah memang benar Paulus melarang penggunaan bahasa Roh dalam ibadah secara bersama, atau sebenarnya Paulus punya maksud dan  penekanan lain lebih dari pada itu. Maka untuk mengerti hal ini kita perlu melihat masalah yang sebenarnya terjadi di jemaat Korintus dengan sudut pandang yang benar, sehingga dapat memahami secara keseluruhan apa sebenarnya yang Paulus ingin mau sampaikan

PENGERTIAN BAHASA ROH

Istilah “bahasa Roh” atau “bahasa lidah”  adalah terjemahan dari kata Yunani  “glôssolalia”. Kata “glôssolalia” ini yang merupakan gabungan dari dua kata Yunani yaitu “glôssa” yang berarti “lidah” dan kata kerja “laleô, yang berarti “berbicara, berkata, mengeluarkan suara dari mulut”. Dalam Perjanjian baru, baik dalam Kisah Para Rasul maupun surat Korintus, istilah “bahasa lidah”, “bahasa asing”, dan “bahasa roh”, digunakan kata dan ungkapan yang sama yang saat ini dikenal dengan “γλωσσολαλια – glôssolalia” yaitu gabungan dari “γλωσσα – glôssa (lidah)” dan kata kerja “λαλεω – laleô (berbicara)”

Bahasa roh pertama kali dalam Kisah Para Rasul pasal 2 merupakan “bahasa-bahasa” (glôssai, bentuk jamak), tidak berbeda dengan bahasa roh dalam jemaat Korintus. Kedua-duanya tidak dimengerti oleh pembicara, dalam Kisah Para Rasul hanya dimengerti oleh orang lain, sedangkan dalam Korintus tidak dimengerti orang lain, oleh karena itu memerlukan penafsiran.  Perhatikan kedua ayat berikut ini: Kisah Para Rasul 2:4, “Maka penuhlah (eplêsthêsan) mereka dengan Roh Kudus (pneumatos hagiou), lalu mereka mulai berkata-kata (lalein) dalam bahasa-bahasa (glôssais) lain (heterais), seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya (apophtheggesthai)”; dan 1 Korintus 14:2, “Siapa yang berkata-kata (lalôn) dengan bahasa roh (glôssê), tidak berkata-kata kepada manusia (ouk anthrôpois lalei), tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan (lalei) hal-hal yang rahasia (mustêria)”. Jadi, ada dua jenis bahasa roh, yaitu bahasa roh yang dimengerti oleh orang lain (Kisah Para Rasul 2:4) dan bahasa roh yang harus ditafsirkan karena tidak dimengerti oleh orang lain (1 Korintus 14:2).

Pada saat murid-murid yang telah berkumpul dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta, mulailah mereka “berkata kedalam bahasa-bahasa (glôssai,) lain” seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakannya (Baca, Kisah Para Rasul 2:4-11). Pada saat itu, banyak orang Yahudi dari luar Palestina tercengang mendengar puji-pujian bagi Allah yang dalam bahasa (glôssa, Kisah Para Rasul 2:11) dan dialek-dialek (dialektos, Kisah Para Rasul 2: 6-8) yang dipakai di negeri mereka sendiri. Yang dimaksud dengan bahasa roh disini adalah bahasa roh yang benar-benar  merupakan karunia Roh Kudus, bukan bahasa lidah yang dibuat-buat, dipelajari, atau ditiru. Ini karunia bahasa roh. Contoh lainnya disebut dalam ayat-ayat berikut ini: Kisah Para Rasul 10:46, “sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh (glôssais) dan memuliakan Allah (megalunontôn ton theon)”;  Kisah Para Rasul 19:6, “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata (elaloun) dalam bahasa roh (glôssais) dan bernubuat (proephêteuon)” (1).

Bahasa roh, menurut Paulus :
1.berkata-kata kepada Allah; bukan kepada manusia; oleh Roh mengucapkan hal-hal yang rahasia, dan tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya (1 Kor 14:2)
2.orang yang berkata-kata dalam bahasa roh membangun (memperbaiki) dirinya sendiri (1 Kor 14:4)
3.merupakan doa yang dilakukan oleh roh (1 Kor 14:14)
4.merupakan bahasa pengucapan syukur yang sangat baik (1 Kor 14:16-17).


MASALAH DI JEMAAT KORINTUS

Masalah-masalah yang terdapat di Jemaat Korintus sangatlah kompleks
Surat Paulus yang pertama ditulis setelah Paulus menerima kabar buruk dari orang-orang Kloe yaitu jemaat Kristen yang ada di Kointus . Berita buruk tersebut adalah timbulnya perseoalan-persoalan, seperti keikutsertaan jemaat Korintus dalam upacara-upacara keagamaan kafir, penghakiman di depan orang-orang kafir dan pelacuran, selain masalah-masalah etis dan moral, surat ini juga merupakan surat penggembalaan untuk menegur jemaat di Korintus  yang memiliki berbagai macam karunia, sehingga menjadikan jemaat satu dengan yang lainnya saling menyombongkan diri. Dan juga menyalahgunakan karunia roh yang telah mereka terima. Salah satunya adalah karunia bahasa roh yang mereka bangga-banggakan dan menggunakannya dengan salah. Dalam Pasal 12-14 Paulus berbicara panjang lebar tentang karunia-karunia, khusus karunia bahasa roh dan bagaimana seharusnya penggunaanya.

Tulisan Paulus kepada jemaat Korintus terkait bahasa Roh paling komprehensif, karena hal ini yang dibuka oleh jemaat dan melaporkannya kepada Paulus. Tidak berarti bahwa gereja lain dibawah penggembalaan Paulus pada saat itu tidak memilki karunia bahasa roh dan menggunakannya pada saat pertemua jemaat. Ini hanya berarti pembaca saat ini tidak memiliki surat yang lain tentang penyalahgunaan karunia bahasa roh (Keener, Gift, 138). Jemaat yang lainya mungkin saja mereka menggunakan karunia bahasa roh secara dewasa, tidak seperti Jemaat Korintus yang saling menyombongkan menunjukan ketidak dewasaan mereka (2).

Yang menjadi masalah utama dalam jemaat korintus terkait dengan karunia bahasa roh adalah:
1. Paulus berusaha mengoreksi pemahaman mereka tentang karunia-karunia roh, karena sepertinya ada sekelomok jemaat yang memandang bahasa roh sebagai ekspresi dari tingkat spiritualitas yang lebih tinggi, sehingga merasa paling hebat dari antara semua yang tidak memiliki karunia bahasa roh dan menjadi sebuah kebanggan pribadi (1 Kor.14:12
2. Paulus menanggapi kekecauan di dalam pertemuan jemaat melalui suratnya karena banyak orang berbahasa roh di depan Publik ketimbang menggunakan bahasa manusia (1 Kor. 14:23)
3. Berbicara dengan bahasa roh di depan public yang tidak diterjemahkan jelas menimbulkan kebingungan (1 Kor.14:27)

Di dalam 1 Korintus 13:1 Paulus berkata “ Sekalipun aku berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Ayat ini mengindikasikan bahwa beberapa jemaat Korintus menganggap bahasa roh yang juga sering disebut bahasa malaikat merupak puncak dari spiritualitas tertinggi. Yang Kemudian Paulus koreksi pandangan yang salah ini, bahwa kasihlah yang menjadi landasan, fondasi dan motifasi dalam menggunakan semua karunia termasuk karunia bahasa roh dan kasih adalah puncak spiritualitas tertinggi yang harus dikejar dan dilakukan.

Poin penting yang ingin Paulus kepada jemaat di Korintus adalah penggunaan bahasa roh didepan publik yang tidak diterjemahkan. Paulus menegaskan dengan memberi contoh dirinya sendiri “Jadi, saudara-saudara, Jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu pernyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran ?” Jadi jelas disini Paulus mengoreksi penggunaan bahasa roh didepan publik seperti berkhotbah atau bersaksi.

 Contoh lain misalnya datang seorang pengkhotbah disebuah gereja berdiri didepan jemaat seharus menyampaikan Firman Tuhan tetapi sang pengkhotbah hanya berbicara dalam bahasa roh dari awal sampai akhir selama 1 jam. Atau misalnya ada salah satu jemaat yang maju kedepan ingin menyaksikan kebaikan Tuhan dalam hidupnya dihadapan jemaat tetapi dengan menggunakan bashasa roh selama 15 menit, maka ini adalah sebuah kesia-siaan belaka,tak ada faedahnya sama sekali untuk jemaat, karena tidak ada satu orangpun yang mengerti apa yang dikatakan kecuali ada yang menerjemahkan (Orang yang memilki karunia menafsirkan bahasa roh.

DUA FUNGSI BAHASA ROH

Bahasa roh memiliki 2 fungsi. Yang pertama Bahasa roh yang digunakan untuk memembangun diri sendiri/privat berkata-kata kepada Allah, sepeti memuji, menyembah Tuhan dan juga berdoa seperti yang dijelaskan diayat 2. Dalam hal ini tidak perlu diterjemahkan karena bersifat pribadi. Yang kedua adalah bahasa roh yang digunakan untuk membangun jemaat atau dengan kata lain bahasa roh public/Ministerial yaitu bahasa roh yang berfungi untuk menyampaikan suatu pernyataan dari Allah yang bisa membangun jemaat ketika diterjemahkan dan nilainya sama dengan menyampaikan nubuatan.

C.Peter Wagner berkata “Karunia bahasa roh adalah kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah dalam suatu bahasa yang tidak pernah mereka pelajari dan atau untuk menerima dan menyampaikan suatu pesan langsung dari Allah kepada umatNya melalui suatu ucapan yang diurapi Allah dalam suatu bahasa yang tidak pernah mereka pelajari (3)

Barangkali ada kebingungan di jemaat pentakosta-Kharismatik terkait pandangan yang mengatakan bahwa ada dua jenis bahasa roh yaitu (1) Bahasa roh sebagai karunia Roh; dan Bahasa roh sebagai bahasa doa. Seperti pandangan Dennis J. Bannet menyatakan “Allah menggunakan bahasa roh dalam dua cara yang berbeda. Sangat penting bagi kita untuk mengerti perbedaaanya. Pertama, apa yang kita sebut sebagai bahasa doa, dan yang kedua adalah “karunia bahasa roh”(4)

Apakah Paulus memisahkan karunia roh untuk pribadi atau bahasa doa (1 Kor. 14:5), dan karunia berkata-kata dengan roh/karunia bahasa roh untuk kepentingan jemaat (1 Kor.12:30b). Secara terminologi, keduanya menggunakan bahasa Yunani yang sama: γλώσσαις λαλοῦσιν  (Berkata-kata dalam bahasa roh) di dalam 12:30 dan λαλεῖν γλώσσαις  (Berkata-kata dalam bahasa roh) di dalam 14:5. Jadi tidak ada dua jenis bahasa roh menurut Paulus (Turner, Tounge, 238)(5)

BAGAIMANAKAH SITUASI DAN LITURGI IBADAH JEMAAT KORINTUS ?

Kita tidak tau secara jelas bagaimana situasi liturgi jemaat di Korintus. Kendala pembaca hari ini tidak dapat secara tepat mengetahui secara tepat situasi dan tata cara ibadah jemaat Korintus saat itu. Kita hanya bisa menebak dan berharap untuk tidak membuat keselahan sedikitpun”(6). Ketika membaca 1 Korintus 14 memang orang lebih gampang  menyimpulkan bahwa Paulus melarang jemaat menggunakan bahasa roh dalam ibadah, atau ada juga yang lebih ekstrim lagi tidak boleh menggunakan bahasa roh sama sekali (cf.Fee 1994,148).

Tapi paling tidak dari pernyataan Paulus dalam 1 Kor.14:26. Memberikan kita sedikit gambaran situsi dan tata ibadah Jemaat korintus, Paulus berkata “Jadi bagaimana sekarang, Saudara-saudara ? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau pernyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafirkan bahasa roh, tetapi semuanya dipergunakan untuk membangun”

Dari ayat ini kita melihat Paulus memberikan arahan bagaimana seharusnya melakukan ibadah saat berkumpul bersama yaitu masing-masing jemaat mempersembahkan sesuatu ada yang bermazmur, ada ada yang menyampaikan Firman Tuhan, ada yang berbahasa roh, ada yang menafsirkan bahasa roh. Dapat kita prediksi bahwa sebelumnya kebiasaan Jemaat Korintus tidak melakukan tata ibadah seperti yang Paulus sarankan diayat ini.

Barangkali jemaat korintus disaat mereka berkumpul melakukan ibadah tanpa tata ibadah yang jelas sehingga memungkinkan terjadi kekacauan dalam ibadah. Apalagi jemaat Korintus lagi bangga-banggnya dengan karunia bahasa roh maka kemungkinan terjadi adalah setiap jemaat berlomba lomba untuk  berbahasa roh sepanjang ibadah tanpa panduan yang jelas. Hal ini diteguhkan dengan pernyataan Paulus sebelumnya di ayat 23 “Jadi, kalau seluruh jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang  berkata dengan bahasa roh”. Jadi kemungkinan besar begitulah situasi ibadah jemaat Korintus pada saat itu, sehingga Paulus mengarahkan mereka supaya tidak kacau dalam ibadah dan semua dapat berlangsung dengan tertip dan sopan.

Kemudian kita coba bandingkan dengan situasi dan tata ibadah gereja masa kini khsususnya gereja Pentakosta-Kharismatik yang memilki tata ibadah yang khas. Saya mencoba memberikan gambaran secara umum tata ibadah gereja Pentakosa-Kharismatik. Diawali Dengan doa pembukaan disusul dengan lagu-lagu pujian penyembahan disertai dengan penyembahan secara spontan yang dipandu oleh seorang Worship Leader. Pada saat penyembahan spontan berlangung biasanya ada sebagian yang menggunakan bahasa roh, tetapi tidak terus menerus pada saat lainya menyembah dengan bahasa manusia biasa.

Sebagian jemaat lainya menyembah dengan bahasa manusia. Disela-sela pujian penyembahan kadang ada gereja terentu yang memberikan ruang kesaksian bagi jemaat yang mau bersaksi, tentu dengan munggunakan bahasa manusia juga. Setelah sesi pujian penyembahan baru mendengar Firman Tuhan yang disampaikan oleh pengkhotbah/pendeta menggunakan bahasa manusia juga bukan bahasa roh. Semuanya berjalan dengan rapi, sopan dan teratur. Setelah Firman selesai baru diresponi dengan pujian penyembahan lagi. Kemudian disesi doa syafaat berdoa dengan bahasa manusai juga yang kadang diselingi dengan doa dalam bahasa roh. Apakah demikian situasi ibadah jemaat di Korintus, apakah mereka melakukan ritual pujian pujian penyembahan pemberitaan firman yang disertai dengan penyembahan spontan seperti yang dilakukan gerja pentakosta-kharismatik masa kini. Kemungkinan besar tidak melakukan tata ibadah yang sama.

Para pengkritik gereja Pentakosta-Kharismatik yang menggunakan bahasa roh dalam ibadahnya saya pikir salah alamat. Dengan melihat fakta liturgi jemaat Korintus dengan jemaat Gereja Pentakosta-Kharismatik masa kini, yang jelas berbeda. “Gereja-gerja pentakosta kharismatik telah melakukan liturgi ibadah mereka dengan sopan dan teratur menurut apa yang mereka yakini. Karena itu tidak baik jika kritikan yang diberikan menurut standart denominasi lain, sebab standard sopan setiap gereja berbeda-beda. Paulus memberikan sebuah goal yang jelas bahwa semua itu dilakukan demi kepentingan jemaat banyak dan membangun jemaat” 1Kor.12:7 (7).

APAKAH KASIH LEBIH PENTING DARI KARUNIA-KARUNIA ROH ?

Paulus berkata di dalam 1 Kor.14:1  “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat”. Banyak orang salah dengan ayat ini, apalaagi bagi mereka yang tidak pro dengan penggunaan bahasa roh mereka berdalil bahwa kasih itu jauh lebih penting dari bahasa Roh. Di dalam ayat ini menggunakan dua kata yaitu “kejarlah” dan “Usahakanlah” itu artinya bahwa bagi Paulus baik Kasih maupun karunia-karunia Roh adalah sama pentingnya dalam jemaat untuk dikejar dan diusahakan. Budiselic berpendapat bahwa Paulus mendorong orang percaya untuk menginginkan kasih dan karunia Roh pada saat yang bersamaan. Paulus tidak menekankan kasih lebih dari karunia Roh atau sebaliknya karena keduanya diperlukan khususnya bagi jemaat Korintus yang saat itu tidak seimbang dalam kerohanian”(8).

Lebih lanjut Budiselic berkata Paulus tidak mengatakan bahwa kasih adalah salah satu dari karunia Roh, tetapi kasih harusnya menjadi motif utama dan penuntun dibalik dari semua praktek dan pelayanan mereka”. Dalam mengoperasikan karunia-karunia Roh harus kasihlah yang menjadi dasar dan pendorong utama dalam melakukannya, sehingga semua bisa berfungsi dengan baik sehingga bisa menjadi berkat bagi banyak orang dan nama Tuhan dipermuliakan (9)

APAKAH KARUNIA BERNUBUAT LEBIH TINGGI DARI KARUNIA BAHASA ROH ?

Hal lain yang tak kalah penting dijadikan sebagai “senjata” ayat bagi sebagian orang yang tidak begitu suka penggunaan bahasa Roh adalah perkataan Paulus dalam 1 Kor.14:5 “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga jemaat dapat dibangun”. Apa yang disalah pahami oleh banyak orang, hanya karena Paulus berkata bahwa dia lebih suka supaya semua jemaat  bernubuat dan orang yang bernubuat lebih berharga dari orang yang berbahasa roh, maka mengambil kesimpulan bahwa karunia nubuat jauh lebih penting dari karunia bahasa roh.

Paulus tidak sedang mengatakan bawah Karunia nubuat jauh lebih tinggi atau penting dari karunia bahasa roh. Adapun maksud Paulus berkata bahwa orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berbahasa roh adalah dalam fungisnya. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun jemaat I Kor.14:4.

Ketika Paulus berkata di 1 Kor. 14:5 “Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya” Tidak berarti bahwa satu karunia lebih besar dan yang lain lebih kecil, tetapi bahwa seseorang yang bernubuat membangun seluruh gereja, sementara seseorang yang berbicara dalam bahasa roh tanpa terjemahan hanya membangun dirinya sendiri. Paulus mendefenisikan nubuat sebagai karunia yang lebih besar daripada bahasa roh bukan karena penggunaan nilai yang melekat, tetapi dari sudut pandang peneguhan, anehnya Paulus menempatkan bahasa roh yang ditafsirkan dalam ketegori kebesaran yang sama dengan nubuatan”. Jadi disini semakin jelas bahwa bukan tentang besar atau kecilnya karunia roh yang satu dibanding dengan karunia roh lainnya tetapi lebih kepada fungsi dan kepada kuantitas dampak yang ditimbulkan antara seluruh jemaat dan pribadi (Donald Gee, 1993, 154) (10).

TELADAN PAULUS DALAM MENGGUNAKAN BAHASA ROH

Jadi, apakah yang yang harus kubuat ? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.1 Korintus 14:15

Dari ayat ini jelas kita melihat teladan dari Paulus bagaimana dia mengguankan bahasa roh. Dengan sendirinya mematahkan pandangan orang yang berkata bahwa tidak boleh berbahasa roh dalam ibadah. Apakah perkataan Paulus tersebut diatas dimaksudkan untuk ibadahnya secara pribadi di rumah ? tentu bukan itu maksud Paulus, sebab di ayat selanjutnya Paulus menerangkan hal ini “ Sebab, Jika engaku mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu ? Bukankah ia tidak tau apa yang engkau katakan?” 1 Kor.14:16

 Dari ayat tersebut dapat kita mengerti bahwa konteks penggunaan bahasa roh yang Paulus maksudkan di ayat 15 bukanlah ibadah secara pribadi di rumah tetapi ibadah secara koorporat/bersama di gereja atau dipersekutuan doa, karena diayat 16 ada orang lain /Jemaat yang ikut mendengarkan, artinya hal itu bicara tentang ibadah secara koorporat bahkan sekalipun itu tidak diterjemahkan karena bersifat pribadi, berdoa dan bernyanyi kepada Allah.

Ulonska berkata  “Pertanyaanya adalah apakah Paulus, ketika ia berbicara tentang  berdoa dan bernyanyi  dalam Roh, berbicara tentang bahasa roh untuk ibadah pribadi atau bahasa roh untuk pelayanan. Jika dia mengacu pada bahasa roh untuk pribadi, maka dia sesaat menggeser pemikirannya dari bahsa roh untuk pelayanan ke bahasa roh untuk pribadi. Beberapa dukungan untuk klaim ini dapat ditemukan dalam kenyataan bahwa Paulus berbicara tentang praktik semacam itu dalam bentuk indikatif masa depan, yaitu ia berbicara tentang bahasa roh sebagai fakta tertentu yang akan terjadi padanya di masa depan. Ini juga sesuai dengan ajaran  Gereja Pentakosta bahwa setiap orang percaya dapat berbicara dalam bahasa roh kapan saja untuk pribadi, tetapi hanya sesekali seseorang dapat berbicara dalam bahasa roh untuk pelayanan ketika ditafsirkan oleh orang lain”  (12).

Teladan Paulus dalam menggunakan bahasa roh di dalam ibadah bersama sebenarnya tidak jauh bedanya dengan apa yang dipraktekkan oleh gereja Pentakosta-Kharismatik dalam setiap ibadah mereka. Ada saatnya memuji dan menyembah Tuhan dengan roh tetapi juga memuji dan menyembah Tuhan dengan akal budi. Kita tidak pernah jumpai di gereja Pentakosta-Kharimatik manapun yang menyanyi dan menyembah Tuhan hanya menggunakan bahasa roh dari awal sampai akhir. Demikian halnya ketika berdoa, kita tidak akan pernah jumpai orang pentakosta-kharimatik berdoa dari awal sampai akhir dengan bahasa roh. Kenyataanya adalah saat berdoa selalu menggunakan doa akal budi dan juga berdoa dengan bahasa roh .Bahkan ada sebagian yang hanya menggunakan doa akal budi saja.

BERNYANYI DAN BERDOA DALAM BAHASA ROH ATAU BERBICARA BAHASA ROH ?

Salah satu ayat penting lainya yang sering digunakan untuk menyerang penggunaan bahasa roh dalam ibadah adalah di 1 Kor.14:23 “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila ?.

Apa yang sering disalahpahami oleh banyak orang dari ayat ini adalah bagian kalimat Paulus yang berkata “Kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh” Kalimat Paulus ini dianggap  seolah-olah sedang berkata bahwa semua jemaat bernyanyi  memuji dan menyembah Tuhan atau berdoa dalam bahasa roh dalam waktu yang bersamaan. Tentu anggapan ini adalah salah kaprah. Paulus sedang bahas soal orang yang berkata-kata, beribicara dalam bahasa roh yang mungkin sedang mau beri kesaksian atau menyampaikan firman Tuhan seorang demi seorang, tetapi tidak diterjemahkan sama sekali. Hal ini dikuat dengan pernyataan Paulus sebelumnya di ayat 6.

Budiselic menanggapi ayat ini dengan berkata “Alasan utama untuk kekacauan dan kesimpulan orang tidak percaya bahwa korintus “Tidak waras” adalah kurangnya penafsiran. Satu orang akan berdiri dan berbicara dalam bahasa roh sehingga semua orang akan mendengarkannya, lalu yang lain, dan yang lain….tidak diterjemahkan. Dan ini masalah  utama di Korintus mengenai bahasa roh. Tetapi jika kita melewatkan poin penting ini dalam teks, rekonstruksi kita kemungkinan akan terdengar seolah-olah Paulus sedang berurusan dengan jenis argument “seluruh gereja bernyanyi/berdoa dalam Roh- Tolong hentikan itu (13).

Model jemaat Korintus yang berkata-kata bahasa roh dalam pertemuan ibadah secara bergantian jelas kita tidak temukan itu di gereja pentakosta-kharismatik zaman sekarang. Kita tidak akan temukan orang memberi kesaksian atau menyampaikan firman Tuhan dari awal samapai akhir dia berbicara pakai bahasa roh. Jangankan orang dari luar yang tidak percaya, saya sebagai orang yang percaya juga yang ikut dalam ibadah pasti akan berkata juga “orang ini tidak waras”. Karena tidak seharusnya demkian tatalaksannya, seharusnya ada yang menerjemahkan hal ini penting karena disampaikan kepada seluruh jemaat yang hadir.

Lebih lanjut Budselic berkata Bisakah kita bayangkan kebingungan apa yang akan terjadi jika seluruh sidang bernubuat dengan suara yang sama ? namun dalam pasal 14 tidak ada yang menyarankan itu. Tetapi biasanya mereka yang menafsirkan ayat 23 berarti secara bersamaan berbicara dalam bahasa roh tidak menafsirkan ayat 23 dengan cara yang sama (14).

ATURAN PENGGUNAAN BAHASA ROH DALAM IBADAH

“Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada orang lain untuk menafsirkannya” 1 Kor.14:27
Kita harus pahami ayat ini bahwa Paulus tidak sedang merujuk kepada penggunaan bahasa roh secara pribadi/privat, tetapi penggunaan bahasa roh yang bersifat publik/Ministerial yakni menyampaikan sesuatu hal yang diterima dari Allah kepada jemaat sebanyak-banyaknya tiga orang dan harus ada orang yang menafsirkannya. Lalu bagaimana kalau tidak ada orang yang menafsirkannya Paulus mengatakan di ayat 28 “hendaklah meraka berdiam diri dalam jemaat” ini tidak boleh ditafsirkan bahwa tidak menggunakan bahasa roh sama sekali dalam ibadah, sebab kalimat selanjutnya berkata “dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya dan kepada Allah” Kalau dalam konteks penggunaan bahasa roh secara pribadi/privat, yang hanya berkata-kata kepada Allah dalam bentuk doa dan nyanyian dalam hal ini Paulus tidak melarang.

Bahkan bukan hanya orang yang menggunakan bahasa roh yang bersifat publik/ministerial yang Paulus tertibkan, tetapi juga orang yang bernubuatpun Paulus berkata “Tentang nabi-nabi-baiklah dua atau tiga orang di antaranya yang berkata-kata dan yang lainnya menanggapi  yang mereka katakan”. Paulus memberikan arahan yang jelas seperti ini tujuannya adalah supaya jemaat bisa dibangun melalui pelayanan bahasa roh secara publik dan juga pelayanan nubuatan yang harus dijalankan secara tertib, sopan dan teratur (1 Kor.14:40).

BAGAIMANA DENGAN LARANGAN TERHADAP PEREMPUAN BERBICARA DALAM PERTEMUAN JEMAAT ?

"Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus harus menundukan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum taurat"1 Kor.14:34.

Apa yang luput dari pengamatan orang-orang yang mengkritik penggunaan bahasa roh dalam ibadah secara korporat adalah larangan Paulus bagi perempuan untuk berdiam diri dalam pertemuan jemaat. di ayat 34, Paulus mengawali kalimatnya dengan berkata “sama seperti” apa maksudnya ? tentu hal yang sama yang Paulus maksud adalah terkait dengan apa yang dibicarakan sebelum ayat itu yaitu penertiban terhadap penggunaan bahasa roh public/ministerial dan aturan bernubuat dalam jemaat. Maka Paulus berkata sama seperti kedua hal tersebut ia juga ingin menertibkan perempuan-perempuan yang suka berbicara dalam jemaat.

Harusnya kalau mau adil dalam mengkritik penggunaan bahasa roh secara korporat maka juga harus mengkritik gereja-gereja yang mengizinkan perempuan-perempuan yang berbicara dalam pertemuan jemaat. Sebab faktanya hampir semua denominasi gereja masa kini tidak melarang perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat bahkan ada banyak perempuan yang terlibat dalam pelayanan jadi pendeta/pengkhotbah.

Saya percaya tidak ada satupun penafsir yang akan mengartikan ayat ini secara letterlek dan mengaplikasikan dalam pelayanan gereja. Pasti sebagian besar Teolog atau penafsir akan berkata bahwa kita harus melihat konteks jemaat Korintus saat itu, saya setuju dengan itu.

Stephen G Walangare dalam tulisannya berkata Jika dihubungkan dengan relasi suami – istri di ayat 35, kita dapat menarik kesimpulan - bersama dengan para teolog yang lain - bahwa ada beberapa perempuan di jemaat Korintus yang tidak segan-segan mengkritisi suami mereka di depan umum. Mungkin seorang suami sedang bernubuat dan istrinya menanggapi. Mungkin pertanyaan dari para istri terlalu tajam dan terkesan memalukan suami mereka sendiri. Mungkin gaya bicara mereka dipandang tidak sopan dan meremehkan, bahkan memalukan suaminya. Intinya, beberapa perempuan Kristen di Korintus telah memberanikan diri berbicara di depan umum yang menunjukkan ketidaktundukan mereka terhadap suami. Itulah situasi khusus yang terjadi di jemaat Korintus(15).

Senada dengan Stephen G. Walangare, Yakub Tri Handoko menjelaskan “situasi khusus seperti apa yang sedang terjadi di Korintus dan dibahas oleh Paulus di bagian ini? Pertimbangan konteks mengarahkan kita untuk mengaitkan situasi ini dengan kebiasaan menyampaikan atau menanggapi nubuat (ayat 29-31). Pemunculan kata kerja manthanō (“belajar”) di ayat 31 dan 35 (LAI:TB “mengetahui”) memberi petunjuk ke arah sana. Jika dihubungkan dengan relasi suami – isteri di ayat 35, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada beberapa perempuan di jemaat Korintus yang tidak segan-segan mengkritisi suami mereka di depan umum. Mungkin seorang suami sedang bernubuat dan isterinya menanggapi. Mungkin pertanyaan dari para isteri terlalu tajam dan terkesan memalukan suami mereka sendiri. Mungkin gaya bicara mereka dipandang tidak sopan. Intinya, beberapa perempuan Kristen di Korintus telah memberanikan diri berbicara di depan umum yang menunjukkan ketidaktundukan mereka terhadap suami” (16).

Lebih lanjut Yakub Tri Handoko menerangkan “Lagipula, Paulus sendiri memiliki banyak rekan pelayanan yang perempuan, misalnya Euodia dan Sintikhe (Flp 4:2-3), Priskila (Rm 16:3; 1 Kor 16:19), Maria (Rm 16:6), Yunias (Rm 16:7), Trifena dan Trifosa (Rm 16:12). Beberapa memegang peranan yang penting. Febe sebagai diaken (Rm 16:1-2). Nimfa menjadikan rumahnya sebagai tempat ibadah (Kol 4:15). Begitu pula dengan Priskila (1 Kor 16:19). Sulit membayangkan bahwa para perempuan ini tidak pernah berbicara di dalam ibadah” (17).

Saya percaya para penafsir lainnya juga sepaham dengan tafsiran Stephen G Walangare dan Yakub Tri Handoko tersebut diatas yang melihat kepada konteks situasi jemaat Korintus saat itu. Lalu kenapa dalam menafsir soal penggunaan bahasa roh di jemaat Korintus yang juga sama sama ditertipkan oleh Paulus tidak dilihat dari konteks Jemaat Korintus saat itu yang kacau dalam ibadahnya. Harusnya kita menerapkan prinsip yang sama dalam menilai dan menafsir, bukan justru tebang pilih sesuai selera. Presuposisi yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah.

KESIMPULAN

Setelah penulis melakukan studi analisis tekstual dan konteks terhadap 1 Korintus 14, maka kita bisa simpulkan bawa apa yang Paulus maksudkan soal peneritiban penggunaan bahsa roh di jemaat Korintus bukanlah penggunaan bahasa roh yang bersifat pribadi/privat dalam doa dan pujian penyembahan kepada Tuhan, melainkan penggunaan bahasa roh yang bersifat public/ministerial yaitu menyampaikan pesan Tuhan kepada jemaat Tuhan yang tidak diterjemahkan. Apa yang terjadi di Korintus bahwa tiap-tiap jemaat datang kedepan menyampaikan pesan Tuhan kepada jemaat dalam bahasa roh dari awal sampai akhir tanpa adanya penerjemah dan juga karena  liturgi ibadahnya tidak tearah dan tersusun dengan baik sehingga menimbulkan kekacauan dalam ibadah.

Gereja Pentakosta Kharismatik dalam praketek ibadahnya tidaklah seperti jemaat di Korintus sehingga tidak releven kalau nasehat dan teguran Paulus kepada jemaat di Korintus dialamat juga ke Gereja Pentakosta Kharismatik yang menggunakan bahasa roh dalam ibadahnya. Dengan Jelas bahwa Gereja pentakosta kharismatik, tata ibadahnya sangat tersusun rapi, berlangung dengan sopan dan teratur seperti apa yang menjadi goal dari pesan Paulus kepada jemaat di Korintus.  Gereja Pentakosta-Kharismatik dalam menggunakan bahasa roh yang bersifat pribadi/privat secara khusus saat pujian dan penyembahan spontan berlangsung dan juga pada saat doa. Tidak secara terus menerus, tetapi meneladani Paulus dalam penggunaan bahasa roh yakni menyanyi dan berdoa dengan akal budi juga menyanyi dan berdoa dengan roh.

Oleh sebab itu menjawab pertanyaan tentang apakah boleh menggunakan bahasa roh secara korporat dalam ibadah ? jawabannya adalah kalau bahasa roh itu bersifat pribadi/privat  diperbolehkan. Tetapi kalau bersifat publik/Ministerial yaitu menyampaikan pesan Tuhan kepada Jemaat harus ada yang menerjemahkan dan maximal  2-3 orang yang berbicara secara bergantian.








Catatan:

1. Budiselic, Ervin. 2016. "Glossolalia: Why Christian Can Speak in Tongues in a Church Service Without Interpretation." Kairos Evangelical Journal of Theology Vol. X, no. 2, 177-201.
2. Bennet, Dennis., 2010. How to Pray for The Release of the Holy Spirit. Terjemahan, Penerbit Andi: Yogyakarta, hal. 28-29.
3. C. Peter Wagner (bersama John Wimber) adalah  pelopor Kharismatik dari Gerakan Gelombang Ketiga (The Third Wave Movement). Beliau pakar pertumbuhan Gereja dan misi dunia, professor Sosiolog dan Antropologi dari Fuller Theological Seminary, Pasadena, California, AS.
4. Ulonska, Reinhold. 1996. Darovi Duha. Osijek: Izvori.
5. Fee, Gordon D. 1994. God’s Empowering Presence. Massachusetts: Hendrickson Publishers.
6. Gee, Donald 1993. Pentecostal Experience. Springfield: Gospel Publishing House.
7. Turner, Max. 1998. "Tongues: an Experience For All in The Pauline Churches?" Asian Journal of Pentecostal Studies Vol. 1, no. 2, 231-253
8. Keener, Craig S. 201
9. https://id-id.facebook.com/notes/samuel-t-gunawan/bahasa-roh-dalam-perspektif-kharismatik/733851926663991/.
10. https://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Paulus_yang_Pertama_kepada_Jemaat_di_Korintus
11. https://www.kompasiana.com/stephenwalangare/5b5f068b5e13731a66769982/eksposisi-1-korintus-14-34-35?page=all
12. http://rec.or.id/article_644_Eksposisi-1-Korintus-14:34-35
13. http://dnaxcommunity.blogspot.com/2018/09/apakah-berbahasa-roh-secara-korporat.html

Sabtu, 25 April 2020

MENANGGAPI POTONGAN VIDEO PDT. NIKO YANG VIRAL

Oleh:Hadiran Halawa

Saya coba untuk menanggapi  potongan video pak Niko yang viral itu dan dikaitkan dengan Covid-19 yang membuat banyak orang kemudian mencibir, bahkan menyerang ajaran denominasi gereja tertentu. yang menurut saya terlalu berlebihan. Kita mestinya dengar dulu kesuluruhan videonya, sebelum dan sesudah pasti ada penjelasan lain. sehingga kita menagkap pesan secara utuh. saya secara pribadi tidak kenal (tidak pernah bertemu) pak Niko karena tidak satu sinode, dan juga tidak melihat keseluruhan isi videonnya.

Namun saya mencoba menerjemahkan atau sedikit menjelaskan  apa yang mungkin beliau mau sampaikan menurut kacamata saya sebagai orang Kharismatik yang percaya akan bahasa roh sama seperti beliau. Ini tidak bermaksud untuk membelanya, tapi supaya kita bisa punya pemahaman yang lebih luas.

Dalam pengertian kami sebagai orang Kharismatik, berbahasa roh itu merupakan sebuah doa/bubungan komunikasi kita dengan Tuhan layaknya seperti doa yang biasa kita lakukan. Paulus mengistilahkan aku berdoa dengan rohku (berbahasa roh) dan juga berdoa dengan akal budiku berdoa seperti biasannya yang lazim kita lakukan dengan kata2 yang bisa dimengerti. 1 Korintus 14:15 (TB)  Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

Nah, apakah kita sepakat bahwa dalam persekutuan kita dengan Tuhan melalui doa, bisa membuat hati kita tenang, damai, sukacita, gembira ? seperti firman Tuhan berkata
Mazmur 16:11 (TB)  Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
Thou wilt shew me the path of life: in thy presence is fulness of joy; at thy right hand there are pleasures for evermore (KJV)

Kalau misalnya kita setuju dengan firman Tuhan tersebut,...mak pasti kita akan setuju juga bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur Amsal 17:22. Nehemia 8:11 Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” (= NKJV …, sebab sukacita karena TUHAN itulah kekuatanmu.

Kalau kita setuju dengan Amsal 17:22 dan Nehemia 8:17,.maka mestinya kita setuju bahwa dalam membangun hubungan dengan Tuhan melalui doa, termasuk doa dengan roh (versi paulus) atau doa dalam bahasa roh menyebabkan kita tenang, sukacita, damai, yang kemudian bisa meningkatkan imun sistem tubuh kita itu sudah dibuktikan secara medis. yang dalam bahasa amsal hati yang gembira adalah obat yang manjur.

Apakah cukup dengan bersekutu dengan Tuhan untuk meningkatkan daya imun tubuh kita ? Tidak juga. itu hanyalah salah satu faktor. Kita sebagai manusia tentu butuh yang namanya makanan yang bergizi, makanan yang sehat, tidur yang teratur, olahraga, minum vitamin tertentu untuk menaikan daya tubuh kita.

Lalu apa hubungannya dengan Covid-19. Kita sama2 tau bahwa covid-19 virus yang sangat berbahaya yang telah merenggut nyawa banyak orang termasuk hamba2 Tuhan dan orang Kristen dari berbagai denominasi gereja.

Apakah dengan kita bersukutu dengan Tuhan yang bisa meningkatkan imun sistem tubuh kita, lalu  kita gagah-gagahan pergi menantang maut yang bernama Covid-19? Tidak juga itu namanya tindakan bodoh. Amsal 22:3  berkata Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.

Apa yang disalah pahami oleh banyak orang, mengaitkan pernyatan Pdt. Niko dalam video dengan kejadian pertemuan jemaat GBI di lembang awal maret lalu, yang mana pada saat itu covid-19 blm terlalu booming di Indonesia, awal maret rata2 gereja diberbagai denominasi masih melakuakan ibadah termasuk gereja saya di Jakarta. himbaun dari pemerintah untuk ibadah di rumah itu pertengahan maret. Itu artinya jemaat GBI beserta hamba Tuhan yang meeting di lembang itu belum begitu tau soal covid-19. Apalagi mengindahkan anjuran pemerintah seperti yang banyak orang katakan.

Baiknya dalam kondisi krisis sperti ini kita sebagai anggota tubuh Kristus tidak saling menyalahkan, kita harusnya saling mendukung, saling memeguatkan satu sama lain.

Shalom untuk kita semua, tetap jaga kesehatan, dan di rumah saja

UJI SETIAP NUBUATAN

Oleh: Hadiran Halawa

Akhir-akhir ini kita telah banyak mendengar nubuatan hamba-hamba Tuhan khususnya dari kalangan Kristen aliran Kharismatik  yang  dibagikan melalui media sosial  terkait  dengan Covid-19 (Virus Corona) yang sedang mewabah diseluruh dunia. Ada beberapa hamba Tuhan yang dengan beraninya bernubuat bahwa Covid-19 akan berakhir pada pertengahan april, ada juga yang bernubuat covid-19 akan segera berakhir setelah perayaan paskah selesai.

Saya secara pribadi sebagai orang Kharismatik percaya bahwa karunia nubuatan masih tetap berlaku sampai hari ini, Alkitab perjanjian baru menyinggung lebih dari tiga puluh kali mengenai nubuat sebagai bagian yang terus menerus dalam gereja, seperti ayat-ayat berikut ini: Kis.2:17-18, Roma 12:6,; 1 Kor. 11:4, 1 Tes.5:20 dll. Tetapi yang menjadi persoalanya adalah ada banyak hamba-hamba Tuhan yang mengclaim dirinya seorang  nabi Tuhan yang dengan terlalu gampangnya menyampaikan nubuatan-nubuatan yang belum tentu benar dari Tuhan.

Lebih cilakanya ada banyak orang Kristen Kharismatik yang kemudian mudah percaya akan nubuatan-nubuatan tersebut kemudian dengan tanpa ragu membagikannya  diberbagai media sosial, seperti facebook, group whatsapp, youtube dll, tanpa terlebih dahulu menyaring  apakah betul nubuatan itu datangnya dari Tuhan atau tidak. Tanpa disadari bahwa dengan dibagikan keberbagai media  sosial maka pastinya akan akan dibaca, didengar oleh semua orang. Apalagi kalau yang menyampaikan pesan nubuatan itu adalah hamba-hamab Tuhan dari luar negeri yang cukup terkenal maka dianggap lebih valid, lebih bisa dipercaya.

Kita tidak bisa menahan atau melarang  pendapat dan pemikiran  banyak orang yang  kemudian mempertanyakan kebenaran dari nubuatan tersebut. Apalagi kalau ternyata nubuatan yang disampaikan oleh para hamba Tuhan tersebut ternyata tidak benar, atau tidak tergenapi. Pasti akan ada konsekuensi logis dibalik dari setiap nubuatan yang tidak tergenapi  yang  telah dibaca dan didengar oleh banyak orang.  Maka tidak heran ada banyak orang yang kemudian menyerang pengajaran kharismatik, mencemooh para hamba-hamba  Tuhan yang bernubuat dengan mengatakan hamba Tuhan sesat , penipu dan lain sebagainya. Itu semua sudah menjadi sebuah konsekuensi logis yang harus diterima.

Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu ada beberapa hamba Tuhan yang menubuatkan tentang akhir zaman akan segera tiba, hamba Tuhan tersebut dengan berani menetapkan hari  tanggal dan tahun tibanya akhir jaman, salah satu tanggal yang ditetapkan adalah 23 September 2017. Saya ingat betul tanggal ini, karena waktu itu bertepatan hari pernikahan saya. Bahkan ada seorang hamba Tuhan yang sampai berkata bahwa kalau nubuatan yang dia sampaiakan tidak tergenapi maka dia akan berhenti melayani Tuhan (berkhotbah) dan akan jadi jemaat biasa saja. Saya tidak tau apakah hamba Tuhan tersebut melakukan seperti apa yang dikatakannya atau tidak. Apakah nubuatan-nubuatan soal akhir zaman yang mereka sampaikan ada yang tergenapi, jelas tidak. Buktinya kita masih hidup di bumi sampai hari ini.

Kenapa kita tidak belajar dari sejarah  kegagalan deretan nubuatan yang pernah disampaikan oleh banyak hamba-hamba Tuhan. Kenapa banyak hamba-hamba Tuhan yang menyampaikan sesuatu hal yang melampaui dari apa yang Alkitab katakan.Dengan Jelas Yesus berkata dalam Matius 24: 36, tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat malaikat di sorga dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri. Bahkan Yesus sendiri dalam kapasitasnya sebagai manusia mengaku bahwa Ia sendiri tidak tau kapan hari dan saatnya. Tetapi kenapa kemudian banyak hamba Tuhan dengan berani  melampaui Firman yang tertulis ini, apakah merasa diri lebih dari Yesus ? semoga tidak.

Setiap nubuatan harus diuji kebenarannya apakah dari Tuhan atau tidak. 1 Tesalonika 5:19-21 berkata; Ujialah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Nubuatan harus benar-benar diuji sesuai tidak dengan kebenaran Firman Tuhan. Sebuah contoh misalnya ada sebuah gereja yang nekat mengadakan kebaktian hari minggu di gedung gereja dengan seluruh jemaat yang berkumpul, kemudian dibubarkan paksa oleh pihak kepolisian ketika gemabalanya ditanya kenapa masih nekat beribaah dan kumpulkan orang banyak dalam gedung gereja padahal sudah dilarang oleh pemerintah untuk ibadah di rumah saja karena bahaya Covid-19, lalu  sang gembala berkata karana saya disuruh Tuhan. Jelas kita bisa tau bahwa itu nubuatan paslu, karena tidak sesuai dengan ajaran dari Alkitab, yang menyuruh kita untuk taat kepada pemerintah.

Sering sekali banyak nubutan yang disampaikan oleh hamba-hamba Tuhan gagal tergenapi karena hal ini Mungkin saja hamba Tuhan tersebut tidak dapat membedakan dengan sempurna apa yang berasal dari Allah dan apa yang berasal dari pikiran (keinginan) kita sendiri, sehingga bercampur aduk antara yang dari Allah dan pemikiran diri sendiri. Bahkan seringkali Pikiran (keinginan) diri kita sendiri lebih kuat berbicara sehingga dianggap sebagai suara Tuhan. Oleh sebab itu dibutuhkan memang kepekaan rohani yang lebih tajam untuk membedakanya dan tentu harus diuji dengan kebenaran firman Tuhan, bila perlu minta konfirmasi dari berberapa hamba Tuhan yang bergerak dalam pelayanan karunia yang sama.

Sudah menjadi sebuah kebiasaan hamba-hamba Tuhan yang bergerek dalam karunia nubuatan, kalau menyampaikan pesan dari Tuhan selalu mengawali dengan berkata “Demikian Tuhan berfirman…..” atau “Tuhan berkata kepada saya….” Seolah-olah nubuat mereka sama seperti nubuatan para nabi dalam perjanjian lama yang jelas otoritasnya jauh lebih tinggi ototritasnya dan yang memang Tuhan pakai 100 % untuk menyampaikan pesan bahakan secara tertulis seperti firman yang kita abaca hari ini. Harus disadari bahwa pesan nubuatan hamba-hamba Tuhan sekarang ini, tidaklah sama bobotnya seperti Firman Allah yang diwahyukan seperti dalam Alkitab.

Hamba Tuhan yang bergerak dalam pelayanan nubuatan harus menyadari bahwa bisa saja pesan nubuat yang dia sampaikan salah atau tidak murni dari Tuhan oleh karean itu saat menyampaikan nubuat, lebih baik, lebih bijak dan lebih aman jika diawali dengan berkata, “Saya pikir Tuhan sedang memberi tahu kepada saya bahwa……” atau, “Saya pikir Allah sedang menaruh firman ini dalam hati saya bahwa….”. Cara ini tidak akan mengurangi keefektifan perkataan yang sungguh-sungguh berasal dari Tuhan. Sebab Jika sesuatu pernyataan berasal dari Allah, Ia akan menerangkannya dengan sejelas-jelasnya di dalam hati orang yang akan dipakai menyampaikannya.

TANGGAPAN TERHADAP POTONGAN VIDEO KRITIKAN PDT.STEPHEN TONG

Oleh: Hadiran Halawa

Tanggapan saya didasarkan dari potongan video kritikan Pdt.Stpehen tong terkait seorang hamba Tuhan yang dalam potongan video tersebut mengatakan bahwa dia dapat pesan dari Tuhan menyuruhnya untuk menghardik virus corona seperti yang Yesus lakukan menghardik  angin taufan di Danau Galilea.

Terlepas dari benar tidaknya Pendeta tersebut dapat pesan dari Tuhan yang menyuruhnya berdoa seperti yang dilakukan Yesus menghardik angin taufan di danau Galilea. Menurut saya biarkan saja, nanti waktu yang akan membuktikan apakah benar atau tidak yang disampaikan. Tapi minimal inti dari yang disampaikan yang perlu digaris bawahi adalah mengajak jemaatnya untuk doa  peperangan rohani dengan cara seperti yang dia yakini. Peperangan rohani tentu alkitabiah, salah satunya dalam Efesus 6:10-12.

Terkait Efesu 6:10-12 ini saya mengutip pernyataan Pdt.Mangapul Sagala dalam sebuah komentarnya di Diskusi Facabook menanggapi poastingan Tolop Marbun: 
"HARUS MEMAHAMI MAKNA EFESUS 6:10 dst. Itulah peperangan rohani. Gagal memahami itu, maka sulit masuk ke dalam peperangan rohani yg benar. Dengan jelas  di sana rasul Paulus mengatakan bahwa kita bukan melawan darah & daging. Artinya materi yg kelihatan. Tetapi melawan roh-roh jahat di udara, penghulu dunia yg gelap. Di sinilah PENTINGNYA PENGALAMAN ROHANI. Jika TDK, maka kita hanya dapat berjuang di level materi. Pasti gagal! Mengapa Tuhan Yesus menghardik iblis pada Mat.16:23? Padahal, dalam alam nyata (sebutlah materi), bukankah Petrus yg bicara? Fw.    Matius 16:23 (TB) Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Lebih lanjut Pdt. Mangapul sagal menjelaskan, "Di situlah peperangan rohani terjadi. Tuhan Yesus sanggup melihat melampaui alam nyata (materi), masuk ke alam roh (ingat peperangan rohani, bukan materi).  Nah, jika iblis (kuasa gelap) bahkan bisa memakai seorang rasul, yaitu Petrus, apakah si jahat tidak bisa memakai Covid19? Catatan: Petrus, bukan iblis, tapi Iblis memakai Petrus. Tuhan berhasil menghardik iblis yg tidak kelihatan itu. Demikian juga, kita akan gagal dalam peperangan rohani bila kita hanya mampu melihat  di level materi, hanya virus"

Apa yang kemudian disalah pahami oleh Pdt. Stephen Tong dan pengikutnya terkait pernyatan hamba Tuhan tersebut yang berkata "Tuhan Menyuruh saya". Mengira bahwa kata Tuhan menyuruh ini..Tuhan bicara langsung kepada Pdt. NN.  Dalam video itu tidak dijelaskan apakah Pdt. NN mendegarkan pesan Tuhan langsung secara audible, melalui hati nuranikah atau melalui alam semesta. Tapi menurut hemat saya karena pesan Tuhan tersebut berkorelasi dengan Cerita alkitab yang dikutip, maka bisa saja sebenarnya Pdt. NN dapat pesan Tuhan melalui pembacaan Alkitab, apakah itu salah ? apakah pesan Tuhan lewat Firman yang menjadi Rhema, bukan pesan khusus buat kita ?. 

Hal lain yang gagal disalah pahami oleh Pdt. Stephen Tong dan orang banyak yang mendukungnya adalah, bahwa karena Pdt. NN mengatakan disuruh Tuhan untuk Mengahardik Virus Corona dan Krisis Ekonomi seperti Yesus menghardik angin taufan di danau Galilea, maka mereka menuntut hasil yang sama, yaitu jawaban doa secepat kilat, corona dan krisis ekonomi secepat kilat berhenti. Ini lucu menurut saya dan tidak bisa masuk dalam logika berpikir.
yang lebih lucunya lagi mengambil sebuah kesimpulan prematur Pdt.NN tidak dapat pesan dari Tuhan, hanya karena mereka tidak melihat hasil yang sama.  

Menuntut hasil yang sama jelas tidak bisa karena hal ini : 
  1. Peristiwa di danau galilea dengan virus corona/krisis ekonomi yang mendunia jelas Tidak appel to appel :
Pelaku : Yesus (Tuhan ) vs Pdt. NN (Manusia)
 Cakupan wilayah : Danau galilea vs Seluruh Dunia 
Jenis : Angin Taufan vs Virus corona dan Ekonomi
Hasil: Secepat kilat vs belum kelihatan hasilnya. 
Jelas hasilnya tidak mungkin sama.

Inti pesan Pdt. NN dalam video adalah mengajak Jemaatnya doa peperangan Rohani. Harus dimengerti bahwa dalam doa peperangan rohani hasil tidak selalu mendapatkan hasil secepat kilat, kadang ada hambatan seperti yang dialami oleh Daniel 10:13, jawaban doa tertunda sampai 21 hari. Kalau benar sperti penjelasan Pdt. Mangapul Sagal perihal Iblis yang bisa memakai Virus Corona, maka jelas tidak bisa menuntut hasil yang sama (secepat kilat)

Murid2 Yesus pernah gagal mengusir roh jahat pada seseorang karena kurang iman, kendati Yesus yang menyuruh mereka secara langsung. Apakah Pdt. ST dan pendukungnya berani mengambil kesimpulan bahwa murid2 Yesus tidak disuruh oleh Tuhan Yesus karena mereka gagal ?. Bisakah hal ini diterima oleh logika berpikir ?

Beberapa tanggapan saya terkait kritikan Pdt.Stephen Tong dalam potoangan video tersebut

1.Pdt. Stephen Tong dalam Kritiknya berkata bahwa tidak boleh “mengcopy” Yesus, yang artinya kita tidak boleh mencontoh pelayanan/pekerjaan seperti yang Yesus lakukan termasuk di dalamnya menyembuhkan orang sakit. Lha..Kalau bukan Yesus yang kita contoh lalu siapa yang mau kita contoh masa si pak Pdt.Stephen Tong. Bukankah kita mengikuti teladan Yesus. peristiwa di danau galilea itu, saya yakin mungkin saja sebenarnya Yesus mengharapkan Murid-muridnya yang selama ini telah diajar, hidup bersama sama dengan Dia tiap-tiap harinya menyaksikan setiap mujizat , merekalah yang seharusnya  mulai belajar praktek iman menghardik badai saat itu, terlihat dari respon perkataan Yesus kepada mereka dengan berkata “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya ?” 

Bukankah Yesus menyuruh kita untuk melakukan pelayanan seperti yang Dia lakukan :"Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma". Matius 10:8
Bukankah Yesus berkata bahwa kalau kita punya iman sebesar biji sesawi kita bisa berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini kesana pindah maka gunung itu akan pindah Matius 17:20. Apakah ayat ini hanya bisa ditafsirkan secara rohani saja yang artinya gunung persoalan. Bukankah gunung Mokattam yang pindah di mesir menjadi bukti real dari pada pembuktian dari ayat tersebut dan bukti tindakan iman hamba2 Tuhan pada masa saat itu. 

2. Pdt. Stephen Tong dalam kritiknya melakukan ad hominem dengan menyerang pribadi hamba Tuhan, dengan mengatakan penipu dan perampok uang jemaat. Sangat disayangkan hamba Tuhan sekaliber Pak Tong melakukan serangan pribadi seperti itu, apakah tidak ada cara lain melakukan kiritik yang lebih baik dengan tidak menyerang pribadinya. Apakah benar-benar Pak Tong tau kalau pendeta yang dia maksud memang menipu dan rampok uang jemaat, apakah ada buktinya..kenapa tidak lapor polisi aja kalau begitu biar diproses secara hukum. Lebih bagus begitu kalau ada buktinya, tapi kalau hanya sekedar berasumsi,bisa dikategorikan fitnah, sangat disayangkan.

3. Pdt. Stephen Tong menantang hamba Tuhan untuk melakukan KKR di Istora Senayan yang menurut saya mustahil dilakukan, karena himbaun pemerintah untuk tidak ibadah di gereja, apalagi mengumpulkan orang yang sakit covid diistora Senayan. Sesuatu yang  tak masuk diakal, mengingat sifat penyebaran virus itu sangat cepat menular. Itulah makanya kita disuruh di rumah saja dan orang yang terkena covid-19 dikarantina. kita sebagai warga negara yang baik tentu kita harus taat juga kepada pemerintah sebagai otoritas kita. Firman Tuhan menyuruh kita untuk taat kepada pemerintah seperti di Roma 13:1. Tuhan berbicara kepada kita melalui pemerintah untuk tinggal di rumah saja.
Apakah itu satu-satuya nya cara untuk mengetahui seorang hamba Tuhan punya kuasa atau tidak dapat dilihat melalui keberaniannya bikin KKR di Istora senanyan di tengah wabah Covid-19 yang mendunia ?. Ini sangat lucu menurut saya. Apakah memang perlu sebuah pembuktian untuk seorang hamba Tuhan punya kuasa atau tidak ?. Tidak cukupkah firman Tuhan yang meyakinkan kita bahwa setiap kita yang percaya Yesus bukan hanya hamba Tuhan tapi semua orang percaya diberi kuasa. Matius 10: 8 1 Yoh 1:12, Lukas 10:19, Efesus 1:22-23, Matius 16:19, 2 Kor 10:4-6 dll.

4. Pdt. Stephen Tong menantang hamba Tuhan kalau tidak terjadi seperti yang didoakan  maka meminta hamba Tuhan tersebut untuk di rajam dengan batu, yang menurut saya ini terlalu berlebihan dan ekstrim. Apakah sebaliknya Pdt. Stphen Tong bersedia diperlakukan hal yang sama yaitu dirajam dengan batu juga  kalau ternyata apa yang didoakan oleh pendeta itu ternyata benar terjadi. Haruskah memakai konsekuensi seperti ini untuk menguji benar tidaknya seorang hamba Tuhan dalam menyampaikan pesan yang dari Tuhan kepada jemaat di Gerejanya?. Haruskah bermain taruh-taruhan untuk pembuktian seorang hamba Tuhan punya kuasa atau tidak. Apakah cara-cara demikian alkitabiah, adakah kita temukan cara-cara seperti ini baik dalam PL maupun dalam PB.

5. Pdt. Stpehen Tong berkata bahwa penginjilan melalui kesembuhan bukanlah penginjilan karena tidak memberitakan tentang Yesus yang mati dan bangkit menanggung segala dosa kita dikayu salib. Dari mana Pdt. Stphen Tong tau pelayanan kesembuhan tidak memberitakan tentang kematian , penyaliban dan kebangkitan Kirstus ?. Apakah pernah melakukan penelitian dibeberap KKR Kesembuhan Ilahi Pengkhotbah tidak memberitakan  tentang Yesus yang mati, disalib dan di dibangkitkan . Sepengetahuan saya yang juga pernha ikut dalam KKR Kesembuhan Ilahi, setiap KKR Kesembuhan Ilahi selalu Yesus yang jadi berita central yang memungkinkan orang-orang disembuhkan karena iman kepada Yesus yang diberitakan terlebih dahulu melalui Khotbah. Yesus dan para Rasul memakai metode pelayanan penginjilan melalui pelayanan kesembuhan Ilahi. Sehingga kita bisa melihat dalam kitab injil pelayanan Yesus diwarnai dengan menyembuhkan orang sakit , mengadakan mujizat dan tanda-tanda heran demikian juga pelayanan para Rasul. Bukankah harusnya kita mengikuti teladan pelayanan Yesus dan para Rasul.

6. Pdt. Stephen Tong meneriaki pendeta-pendeta diseluruh Indonesia untuk mendengarkan perkataanya. Siapakah Pdt. Stephen Tong, apakah dia” Tuhan” atas pendeta-pendeta yang harus didengarkan. Apakah semua perkataan dan pengajaran Stephen Tong  auto benar, maha benar dan tidak pernah salah ? 

Semoga Pdt.Stephen Tong  tidak merasa lebih Pendeta dari semua pendeta, dan lebih benar dari semua hamba Tuhan.

Harusnya dalam kondisi seperti ini, tokoh2 gereja, hamba2 Tuhan senior memberi teladan untuk bersatu berdoa untuk bangsa kita, bersatu,.merendahkan diri untuk  memohon belas kasihan Tuhan supaya Virus corona di bangsa kita cepat berlalu.

Shalom untuk kita semua, mari bersatu dalam doa,  tetap jaga kesehatan, di Rumah saja.

Jumat, 24 April 2020

KETIKA TUHAN SEAKAN DIAM

Oleh: Hadiran Halawa

Ditengah penderitaan dan kesulitan hidup, disaat hidup terasa gelap, disaat semua jawaban doa tidak seperti yang kita harapkan, bahkan justru mungkin keaadaan semakin bertambah parah diluar dari apa yang kita harapan. Kita sebagai manusia cenderung bertanya dalam hati, “kenapa Tuhan izinkan semua ini terjadi”, Kenapa Tuhan berpangku tangan saja, tanpa melakukan sesuatu”, “Kenapa Tuhan seakan diam saja”, “Bukankah Tuhan maha kuasa”, “bukankah Tuhan sanggup menolong”,  Dimanakah Tuhan yang berkuasa itu”.

Barangkali kita sudah habiskan waktu berdoa berjam-jam,berhari-hari , berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, berdoa dengan ratap tangis disertai dengan doa puasa mengharapkan doa-doa kita dijawab secepat kilat seperti yang kita mau, mengakui dosa-dosa dihadapan Tuhan. Mungkin sudah baca firman Tuhan bolak-balik juga dari kejadian sampai Wahyu. Tapi seiring waktu berlalu kita melihat kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapankan. Maka tidak heran banyak orang percaya mulai bertanya-tanya dalam hati  “ kenapa dan kenapa”?

Terkadang ketika Tuhan seakan diam itu adalah saat-saat yang sangat menyakitkan dan membingungkan. Bukankah janji-janji Firmannya berkata seperti ini, tetapi kenapa kenyataanya seperti ini. Apakah anda merasa Tuhan seakan diam dalam hidupmu, menantikan jawaban doa yang tidak kunjung tiba ?.

Bukan hanya kita orang yang percaya di zaman modern ini yang mengalami masa-masa dimana Tuhan seakan diam. Beberapa Tokoh dalam Alkitab juga mengalami hal yang sama. Raja Daud ditengah-tengah penderitaan dan kesulitan hidup juga pernah berdoa seperti ini, “KepadaMu ya Tuhan, gunung batuku aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab, jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur”Mazmur 28:1

Asaf seorang imam musik dari keturunan Lewi juga mengalami hal yang sama ditengah-tengah penderitaan dan kesulitan hidup pernah berdoa seperti ini “Ya Allah, Janganlah Engkau bungkam, janganlah berdiam diri dan jangan berpangku tangan ya Allah”Mazmur 83:1

Ayub ditengah-tengah penderitaan hebat yang dia alami berkata : Aku berseru minta tolong kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi engkau tidak menghiraukan aku Ayub 30:20. Lebih lanjut Ayub berkata “Hendaklah Yang Mahakuasa menjawab aku!” Ayub 31:35. Ayub ingin mengerti semua alasan dan arti dari penderitaan hebat yang menimpa dirinya dan seisi rumah tangganya.

Ditengah-tengah pergumulan dan pertanyaannya, Tuhan menjawab Ayub dari dalam badai (Ayub 38-42). Tuhan bertanya dimanakah Ayub saat menciptakan dasar bumi, Apa yang telah Ayub lakukan dalam memanggil alam semesta menjadi ada, dalam meciptakan hidupnya, yang memungkinkan memiliki seluruh harta kekayaanya, atau anak-anaknya bahkan kesehatannya ?

Barangkali Ayub dan juga kita di zaman sekarang  ini mengharapkan jawaban doa seperti yang kita pikirkan. Ketika kita bertanya saol A maka kita harapkan Tuhan jawab kita dengan sebuah penjelasan soal A juga. Tapi  apa yang Dia lakukan dalam menjawab Ayub tidaklah seperti itu. Tuhan tidak menjelaskan, Tuhan tidak menjelaskan rencana besarnya dibalik dari semua penderitaan Ayub. Tetapi justru Tuhan menyatakan dirinya.

 Ditengah-tengah pernyataan Diri-Nya yang dahsyat, semua pertanyaan ayaub yang tidak terjawab tiba-tiba menghilang. Tuhan bertanya kepada Ayub “Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa ?. Ayub menjawab “ Sesungguhnya aku ini terlalu hina, jawab pakah yang dapat kuberikan kepadaMu ? mulutku kututup dengan tangan, satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi , bahkan dua kali, tidak akan kulanjutkan” (ayub 40:2-5)

Penderitaan yang kita alami tidak selamanya butuh sebuah penjelasan kenapa hal itu kita alami. Terkadang penderitaan adalah sebuah misteri yang sulit untuk kita pahami dan  kita tidak perlu tau alasannya, karena itu bagiannya Tuhan. Tuhan tidak menjelaskan secara detail kepada Ayub arti dari penderitaan yang dia alami, dan bagaimana cara keluar dari penderitaan itu. Tuhan sedang mengajar Ayub dan kita semua orang percaya untuk belajar menerima sebuah misteri, menerima semua kehendak Allah dalam hidup kita, dan belajar untuk mempercayakan segenap hidup kita kepada Tuhan walaupun terkadang banyak hal yang tidak kita mengerti. Yang pasti bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

Ketika Tuhan seakan diam,bukan berarti Tuhan tidak sedang bekerja melakukan sesuatu untuk kebaikan kita. Tuhan sedang bekerja dengan caraNya yang ajaib, yang sering tidak terlihat oleh kita manusia. Bukankah Tuhan berkata “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” Yesaya 55:8-9. Ketika kita belum melihat jawaban doa, bukan berarti Tuhan tidak menjawab doa. Di akhir dari kitab Ayub kita melihat bagaimana Tuhan pulihkan keadaan Ayub, bahkan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaanya dahulu, Ayub 42:10. Tuhan menjawab doa dengan caraNya bukan dengan caranya kita. Tuhan menjawab doa dengan waktuNya bukan dengan waktunya kita.

Ditengah pandemic virus corona yang sedang melanda dunia, pasti semua orang Kristen, hamba-hamba Tuhan berdoa supaya covid-19 cepat berlalu. Ketika jawaban doa tidak sesuai dengan yang kita harapkan kiranya kita tidak putus asa dan menjadi kecewa hanya karean kita belum melihat hasil dari doa-doa kita. Yang pasti Tuhan sedang bekerja dengan cara-Nya. Kita tidak pernah tau ditengah-tengah wabah virus yang membawa penderitaan ini, banyak jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Tuhan, banyak bangsa-bangsa yang tadinya tidak peduli dengan urusan kepercayaan kepada Tuhan, sekarang berbalik mencari wajah Tuhan. Oleh sebab itu mari terus berdoa dan berdoa, sebab Tuhan menjawab doa dengan caraNya.

Tuhan Memberkati !

Selasa, 26 Februari 2013

MELIHAT TUHAN DI TENGAH BADAI


Oleh:Hadiran Halawa
 
“Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya TUHAN itu ! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya” Mazmur 34:9

Kalimat dari pernyataan ini bukanlah sebuah slogan kosong atau hanya sekedar omongan isapan jempol Daud belaka untuk mengenakan telinga dan menyenangkan serta membersarkan perasaan pembaca, tanpa sebuah sebuah fakta empiris. Ketika Ketika Daud berkata “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu, berbahagialah orang yang berlindung padaNya”, benar-benar Daud mengalaminya dalam kehidupan nyata setiap hari. Mungkin sejenak kita akan berkomentar dalam hati..”ah wajarlah kalau Daud berkata seperti itu, karena kehidupanya sebagai Raja Israel yang kaya Raya, berkelimpahan dalam segala hal, berada dalam zona nyaman, tidak seperti aku yang lagi dalam keadaan menderita, mengalami kesusahan, pergumulan berat yang seakan tak ada akhirnya”. Tapi tunggu dulu, pada saat Daud berkata seperti ini, bukanlah pada saat dia sudah memiliki segala kemewahan dan kenyamanan hidup sebagai raja, melainkan pada saat dia menjadi seorang buronan kerajaan Isrel pada masa pemerintahan Saul (1 Samuel 20 -22).

 Daud harus menjadi buronan kerajaan, melarikan diri keberbagai tempat, bersembunyi di gua-gua batu karena Saul sangat menginginkan nyawanya. Berawal dari sikap benci, iri hati Saul terhadapa Daud, karena ternyata dalam peperangan melawan bangsa filistin Daud tampil sebagai sesosok pahlawan yang konon masih terlalu muda, tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang, tidak diperhitungkan sama sekali dalam kelayakan barisan prajurit. Daud berhasil mengalahakan bahkan membunuh pendekar saktinya bangsa filistin yang bernama Goliat. Perempuan Israel memperhitungkan Daud sebagai seorang pahlwan yang hebat, pendekar sakti, melebihi dari pada Saul sendiri, dengan mengatakan “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa”. Dari sinilah awal pemicu kebencian Saul terhadap Daud, iri melihat meliahat dan mendengar Daud lebih diperhitungkan dari pada dirinnya sendiri, yang adalah seorang raja dan juga pendekar hebat dari bangsa Israel. Sehingga pada akhirnya Saul mengaktualkan kebencian itu dalam aksi nyatanya dengan berusaha memburu Daud kemana-mana untuk dibunuh. 

Daud harus melarikan diri dari Saul sampai di kota Gat yang pada saat itu Akhis sebagai seorang raja. Daud harus berpura-pura jadi gila di depan Akhis karena takut dibunuh. Pada masa sukar dan sulit yang sedemikian hebat inilah Daud berkata “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu, berbahagialah orang yang berlindung padanya”. Ditengah-tengah kesukaran, penderitaan, badai kehidupan yang sedang mengancam hidupnnya Daud masih bisa berkata kecap dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu. Kalau kita berpikir secara logis, sebenarnya Daud tak seharusnya dia berkata “kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu”, bagaimana mungkin ia bisa merasakan dan bahkan melihat Tuhan di tengah badai  hidup yang begitu rumit dan sukar..??, berada dalam situasi yang sangat sulit dan tidak mengenakan, posisinya antara hidup dan mati, sbab kapan saja Saul mendapatkannya pasti dibunuh. Sebagai seorang buronan, yang melarikan diri kesanan-sana, tentu saja hidupnya tidak tenang, selalu was-was, selalu berpindah-pindah tempat, bersembunyi di gua-gua batu untuk menghindar dari incaran Saul, mungkin sering tidak makan, tidak bisa tidur dan lain sebagainya. Bukan hanya jasmaninya yang capek tentunnya juga berpengaruh kepada psikisnya, mengalami stress, takut, khwatir. 

Daud bisa saja kecewa dengan Tuhan,  karena barusan saja dia melihat dan menyaksikan kuasa Tuhan dalam dirinya dengan membunuh pendekar raksasanya bangsa filistin. Daud  sedang berada “diatas gunung” dengan mengalami kemenangan yang gilang gemilang atas bangsa filistin setiap kali mereka pergi berperang, dikasihi oleh seluruh bangsa Israel, tinggal di Istana, menikah dengan anak seorang raja. Dan sekarang harus menerima kenyataan bahwa dirinya berada dalam “lembah kelam”, sebagai buronan kerajaan yang harus dikejar-kejar, diburu, dimata-matai setiap waktu oleh kaki tangannya raja Saul untuk dibunuh pada setiap setiap kesempatan. Tetapi faktanya berbicara bahwa Daud tidak kecewa sama sekali dengan Tuhan, justru sebaliknya melihat Tuhan ditengah badai kehidupan yang sedang dialaminya, dengan mengatakan “kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu”.

Ada dua hal penting disini yaitu “mengecap” dan “melihat” kebaikan Tuhan. Mengecap artinya mencicipi, merasakan sedalam-dalamnya, benar-benar meresapi, menikmati. Sama seperti ketika kita mencicipi sepotong kue tart atau mengecap madu asli, yang tentunya manisnya akan terasa dilidah kita dan akan segera meresap dalam pikiran dan perasaan kita. Melihat artinya benar-benar menyaksikan dengan jelas. tentunya yang dimaksudkan bukan melihat secara mata jasmani tetapi melihat dengan mata rohani atau mata iman. Sepertinya Sangat tidak masuk akal kita bahwa Daud bisa mengalami kedua hal ini disaat harus mengalami penderitaan hebat sebagai seorang buronan yang harus dikejar-kejar, tapi ironisnya Daud benar-benar mengalaminya, itulah sebabnya dia mendorong kita untuk mengalaminya juga dalam kehidupan kita yang sarat dengan pergumulan dan penderitaan hidup.

Dengan mengerti akan  hal ini, maka pasti kita akan dibuat penasaran dengan bertanya sebenarnya apa rahasianya Daud sehingga ditengah badai kehidupannyapun justru bisa merasakan dan melihat kebaikan Tuhan atau dengan kata lain melihat Tuhan..?? bagaimana Daud melakukan hal ini. Sebab pada kenyataan dalam kehidupan sehari-hari dalam pergumulan dan kesulitan hidup justru membuat kita sebagai orang percaya bukannya melihat Tuhan justru, berpaling dari pada Tuhan kepada hal-hal lain. Bukanya mengecap dan melihat Tuhan ditengah badai tapi justru, kita sering mempersalahkan Tuhan, kecewa dengan Tuhan, mempersalahkan orang-orang yang disekitar kita, menjauh dari Tuhan. Apa sebanarnnya yang dilakukakan Daud sehingga dia mampu melewati masa padang gurun ini dengan berkemenangan.

Segera kita akan dibuat mengerti dalam Mazmur 34 ini bahwa ada tiga hal yang dilakukan oleh Daud yaitu:

-          Daud berketatapan untuk memuji Tuhan pada segala waktu 

“Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu, puji-pujian kepada-Nya tetap dalam mulutku” (Mazmur 34:1).

 Ada hal yang menarik dari pernyataan ini bahwa Daud mau memuji Tuhan bukan hanya pada saat hidup berjalan sesuai dengan apa yang kita pikirkan, berkelimpahan, berkat, cita-cita tercapai, tetapi juga pada saat hidup ini tidak berjalan sesuai dengan yang kita pikirkan, yang terkadang menimbulkan rasa stress, pada saat kita dalam penderitaan, pergumulan, kegagalan, untuk segala waktu. Berbeda dengan kebanyakan orang percaya zaman sekarang ini, hanya mau memuji Tuhan pada saat perasaan ini enak, tidak lagi galau, terganggu dengan tekanan, masalah. Lebih bergantung kepada perasaan, tunggu perasaan enak dulu baru memuji Tuhan. Daud pasti sangat mengerti bahwa memuji Tuhan bukan tergantung pada perasaan enak atau tidak enaknya. Tapi memuji Tuhan oleh karena siapanya Dia. Itulah Dia berkata untuk segala waktu, kondisi dan keadaan, baik dalam keadaan buruk maupun baik, lagi ada masalah atau tidak ada masalah harus tetap memuji Tuhan, karena Dia layak dipuji sebagai Tuhan yang berkuasa berdaulat penuh atas hidup kita.

Bukan hanya itu, Daud pasti sangat mengerti bahwa ada kuasa dalam puji-pujian. Dalam ayat lain dari kita mazmur Daud berkata “ Tetapi Engkau yang kudus, bertakhta dalam puji-pujian orang Israel”. Pujian mendatangkan hadirat Allah, pujian dan penyembahan adalah kunci dalam memasuki hadirat Allah. Dalam hadirat Allah ada kuasa, urapan, ada kemuliaan, kedamaian, sukacita. Ada beragam kisah dalam Alkitab bagaimana bangsa Israel mengalami kemenangan dalam perang hanya karena pujian, bagaimana Silasa dan paulus lepas dari penjara hanya karena mereka memuji Tuhan. Dalam keadaan tertekan oleh karena berbagai pergumulan hidup hendaklah kita mencontoh Daud, secepatnya mengambil keputusan untuk memuji Tuhan, walau mungkin tidak ada perasaan enak pada saat itu, tetapi trus saja memuji Tuhan, sebab nantinya rasa enaknya (tenang, damai, sukacita) akan menyusul setelah masuk dalam hadirat Tuhan. 

-          Mencari Tuhan Dengan Segenap Hati

Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” Mazmur 34:5

Daud pasti sangat mengerti bahwa Tuhan adalah solusi atas segala persoalan hidup. Untuk itu dalam keadaan tertekan oleh berbagai macam persoalan hidup yang harus dicari dengan segenap hati adalah Tuhan. Dan Tuhan hanya bisa ditemukan kalau kita mencari dan bila kamu mencari aku, “kamu akan menemukan Aku, apa bila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yeremia 29:13), Ulangan 4:29 “Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. menanyakan Dia dengan segenap hati”. 

Apa artinya segenap hati disni…?? Segenap hati artinya ada kesungguh-sungguhan, ada tekad bulat, komitmen untuk menemukan Tuhan berapapun harga yang mungkin harus dibayar. Perlu konsentrasi penuh, bukan sambil lalu, coba-coba, spekulasi. Butuh waktu  dan kesabaran untuk menantikan Tuhan, sampai ketemu dan upahnya adalah memperoleh kekuatan baru, disegarkan, dipulihkan (Yesaya 40:31). Perlu berdiam diri dalam hadirat Allah sehingga kita dapat mengetahui, mengenal dan menemukanNya. Inilah harga yang harus dibayar untuk bisa menemukan Tuhan (Mazmur 46:11).
Banyak orang yang rindu dan mau ketemu Tuhan dalam hadirat-Nya tapi hanya sedikit orang yang mau mencariNya dengan segenap hati dan jiwa, mencari dengan penuh kesungguhan, komitmen, bertekad, memberikan waktu, bersabar, berdiam diri. Kita terlalu banyak disibukkan dengan perkara lain yang mencuri  perhatian kita untuk mencari Tuhan. Dan Iblis sangat tahu hal ini bahwa menemukan Tuhan dalam hadiratNya adalah kunci dari kekalahan besar baginya, sebab dalam hadirat Tuhan Iblis tak akan mampu beroperasi dengan bebas, segala tipu dayanya tidak akan mempan. 

Itulah sebab Iblis mencegah banyak orang Kristen untuk tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan dengan segenap hati. Dia membiarkan banyak orang Kristen rajin kegereja, baca Alkitab, berdoa, tapi masih tetap dalam belenggunnya. Ketakutan, kehwatiran, kebimbangan, cemas dan lain sebagainya. dia akan mencegah jangan sampai mencari Tuhan dengan sungguh dengan segenap hati dan jiwa dan akhirnya menemukannya dalam hadirtNya. itu berbahaya baginya. Sebab dalam hadirta-Nya tidak ada kegentaran, ketakutan, kecemasan, kekhwatiran, yang ada hanyalah ketenangan dan kedamaian kendati ditengah badai.

-          Mata rohani tetap fokus kepada Tuhan

“Tunjukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri dan tidak akan malu tersipu-sipu” Mazmur 34:6

Daud sangat mengerti bahwa tidak hanya cukup mencari memuji Tuhan, mencari Tuhan  dan menemukanya dalam hadirt-Nya pada masa kesusahan hebat, pada masa padang gurun, tetapi juga tetapi tinggal dalam hadirta-Nya. Mata rohani dalam harus tetap focus kepada Tuhan, berusaha tinggal  tetap dalam hadirat Tuhan, hati harus melekat dengan hati Tuhan setiap saat. Begitu mudah dan cepatnya kita bisa beralih dari hadirta-Nya saat kita sudah menemukannya. Begitu cepat dan mudahnya kita meninggalkan tahta kasih karuni Tuhan. Dunia dan dengan segala kemilauan, kemewahan, kegemilangan, tawaran yang menarik, daging kita dengan segala keinginannya menarik kita dengan cepat untuk keluar dari hadirat Tuhan, hati kita tidak melekat lagi dengan Tuhan. Itulah sebabnya untuk teteap tinggal dalam hadirat Tuhan bukanlah hal yang mudah, mungkin kita bisa menemukanNya dalam hadirat-Nya saat kita mencari Dia dengan segenap hati kita, tapi bisakah kita tetap tinggal dalam hadirat-Nya, melekat dengan hati-Nya setiap saat..?? perlu banyak latihan, dan usaha ekstra sehingga menjadi suatu kebiasaan kita. Banyak orang Kristen yang gagal dalam area ini, cepat menemukan hadirat-Nya tapi tidak sanggup untuk terus mempertahankan untuk tetap tinggal dalam hadirat-Nya.

Hati yang tetap fokus kepada Tuhan, tinggal tetap dalam hadirat-Nya akan membuat muka berseri-seri, karena damai dan sukacita Ilahi, berkemenangan dan tidak akan dipermalukan. “Sungguh hatinya melekat kepada-Ku, maka aku akan meluputkanya, aku akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKu” Mazmur 91:14. Saat hati kita melekat dengan Tuhan dan tinggal dalam hadirat-Nya, pada saat yang sama kita dibentengi oleh Tuhan dari segala kuasa Iblis yang berusaha menghancurkan hidup kita. Tapi pada saat kita keluar dari hadirat-Nya, hati kita tidak melekat denngan Tuhan, pada saat yang sama benteng perlindung kemuliaan Tuhan terangkat, dan kita berada dalam zona tidak aman, kita dengan mudah kembali diserang dan dibelenggu oleh kuasa Iblis. Itulah yang terjadi dengan Adam dan Hawa di taman Eden, saat mereka keluar dari hadirtan-Nya maka pada saat yang sama kemuliaan Tuhan terangkat dari mereka, dan memudahkan Iblis menguasai dan membelenggu kehidupan mereka.

Kiranya dalam keadaan apapun dan dalam kondisi seburuk apapun kita belajar dari seorang Daud yang telah mengalami kuasa Tuhan di tengah persolan hidup, melihat Tuhan ditengah badai yang sedang bergelora, menjadi dorongan bagi kita untuk juga mau melihat Tuhan di tengah-tengah badai kehidupan. Dengan menaikan pujian bagi Tuhan,sebab ada kuasa dalam kuasa dalam pujian, mencari Tuhan dengan segenap hati sampai menemukannya dalam hadirat-Nya, dan mata rohani kita tetap fokus kepada Tuhan, yang artinya tetap tinggal dalam hadirat-Nya.
Amen !